Download versi cetak: 1277_1450_KebaktianPagiSore_17Aug2026_BI

Iman Perwira Kapernaum

Matius 8:5-13

Pdt. Prof. Benyamin Intan, PhD.

Ada beberapa hal yang kita bisa pelajari dari bacaan kita. Yang pertama, kita melihat Tuhan Yesus begitu takjub ketika melihat iman perwira di Kapernaum ini. “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, aku tidak pernah menjumpai iman yang seperti ini di antara orang Israel.” Iman yang bagaimana yang membuat Tuhan Yesus begitu takjub? Iman dari perwira ini pertama-tama adalah iman yang meminta hal-hal yang impossible. Hambanya itu lumpuh dan sangat menderita. Henrikson mengatakan dia sulit bernafas. Lukas yang adalah seorang dokter mengatakan dia dalam kondisi sekarat. Dia sakit keras dan hampir mati. Kondisinya itu hopeless dan helpless. Tapi perwira ini mempunyai harapan pada Tuhan Yesus. Bagi dia Tuhan Yesus tabib di atas segala tabib. Di dalam benak dia, Yesus adalah Tuhan.

Ketika kita meminta kepada Tuhan, kita boleh saja meminta hal-hal yang sepele, “Tuhan saya mau ujian,” “Tuhan saya besok mau berangkat ke Jakarta tolong saya tibakan dengan selamat,” dan seterusnya. Tetapi kita juga harus minta hal-hal yang impossible di hadapan Tuhan. Jikalau engkau ditanya oleh seorang Presiden mau minta apa, lalu engkau jawab minta sepeda. Sepeda mungkin sekali lagi di identikan dengan rakyat kecil atau supaya rakyat sehat. Tapi kalau saya jawab beliau, saya minta izin gereja di tempat di mana tidak mungkin izin itu dikeluarkan. GRII pusat yang merupakan headquarter gerakan kita itu perlu 15 tahun untuk bisa mendapatkan izin gereja.

Tuhan Yesus di taman Getsemani sampai tiga kali Dia meminta hal yang tidak mungkin dikabulkan oleh Allah Bapa, “Ya, Bapa, kalau boleh, biarlah cawan penderitaan ini lalu daripadaKu.” Paulus, ada yang mengatakan dia adalah prajurit Kristen yang terbesar setelah Tuhan Yesus. Ketika bicara duri di dalam daging, dia minta sampai tiga kali juga Tuhan tidak kabulkan. Ini semua menjadi satu contoh bagi kita. Ada orang-orang Reformed yang menamakan dirinya Cessasionist. Artinya mukjizat semua sudah berhenti. Saya hargai orang-orang ini yang kemudian mengkritik karismatik yang terus-menerus berorientasi pada mukjizat. Tapi jangan sampai kita bagaikan pendulum. Ketika kita melawan lalu kita pergi kepada ekstrem yang lain, sama sekali tidak percaya mukjizat dan hanya bergantung kepada kedaulatan Allah. Itu sebabnya persekutuan doa di gereja-gereja Reformed itu biasanya kosong. Kita percaya bahwa mukjizat masih ada. Dan mukjizat terbesar dalam dunia ini adalah penginjilan. Ketika engkau dan saya di dalam kegelapan menuju kepada terang Tuhan yang ajaib. Ini adalah the greatest miracle. Dan kita harus terus berdoa untuk mukjizat yang terbesar itu terjadi di dalam zaman ini, dalam hidup kita, dalam gereja kita. Sadrakh, Mesakh dan Abednego dilemparkan ke dalam perapian yang menyala-nyala dibikin tujuh kali lebih panas. Tujuh adalah angka sempurna, tidak bisa lebih panas daripada panasnya pada saat itu. Mukjizat yang paling terbesar bukan karena api yang begitu panas itu tidak membakar mereka. Bukan itu yang paling penting bagi saya. Mujkjizat yang paling besar itu adalah hati Nebukadnezar berubah, yang tadinya mencela dan menghina Allah Yehova, menjadi hati yang memuji yang memuliakan Allah Yehova. Yang kedua, perwira ini ketika dia meminta hal-hal yang impossible, dia tidak membabi buta. Dia tidak paksa Tuhan untuk tunduk kepada kehendak dia. Dia membuka, memberikan ruang bagi kedaulatan Allah. Dia berkata pada Tuhan Yesus, “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku ini sembuh.” Jadi terserah kepada Tuhan Yesus. Dia mengepalai 100 orang pasukan. Dia tidak datang dengan 100 pasukan lalu memaksa Tuhan Yesus. Ayat 6 bacaan kita, “Tuhan hambaku itu terbaring, sakit lumpuh dan sangat menderita.” Hendrikson mengatakan ini adalah statement, bukan request. Kalaupun itu request, itu jauh dari paksaan. Mirip dengan orang kusta di dalam perikop sebelumnya dalam bacaan kita, seorang kusta itu datang kepada Tuhan Yesus dan dia mengatakan, “Tuan, jika Tuhan mau, Tuan dapat, Tuan akan menyembuhkan saya.” Dia yakin Yesus sanggup, yang dia tidak yakin apakah Yesus mau apa tidak. Ketika Yesus di taman Getsemani meminta hal yang tidak mungkin terjadi. Yesus menutup dengan kalimat, “Bukan kehendakKu, tetapi kehendakmu yang jadi.” Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diberikan kesempatan lagi untuk menyembah patung buatan tangan Nebukadnezar. Mereka berkata kepada raja, “Sia-sialah tuanku, Allah yang kami sembah adalah Allah yang sanggup melepaskan kami. Tetapi seandainya tidak, “Ketahuilah Tuhanku bahwa kami tetap tidak akan menyembah patung buatan tangan Tuhanku.” Iman “tetapi seandainya tidak” adalah iman yang memberikan space bagi kedaulatan Allah.

Saya masih ingat virus SARS ketika melanda Asia tahun 2002-2004. Saya lagi studi S3 di Boston College. Lalu 2003 saya dengan istri kembali ke Indonesia dan saudara kita pakai pesawat SQ dari New York sampai Jakarta pulang pergi round trip itu cuma USD 425. Di kelas ekonomi hanya ada tiga orang. Dengan saya dan istri kita berlima. Hampir tidak ada orang yang mau ke Asia karena virus SARS. Sampai di Jakarta Pak Tong tetap keliling. Dua kali khotbah di Jakarta, dua kali kemudian khotbah di Singapura. Senin pergi ke Kuala Lumpur, Selasa itu ke Hongkong, Rabu ke Taipei, Kamis baru kembali ke Jakarta. Jalan terus dan pergi tanpa masker. Pak Tong pada saat itu batuk-batuk. Pak Tong cerita kalau di bandara ketika batuk itu semua orang menjauh. Saya tanya Pak Tong kenapa Pak Tong tetap jalan? Dua hal, hal yang pertama karena kehendak Tuhan saya harus memberitakan Injil Tuhan. Yang kedua, saya mau menjadi contoh. Saya tanya kepada Pendeta Stephen Tong, “Pak Tong tidak takut?” Beliau jawab, “Saya pernah doa, tapi hanya sekali. Doa yang mirip dengan Sadrakh, Mesakh dan Abetnego. Saya percaya Tuhan sanggup lepaskan saya dan akan lepaskan saya. Tetapi seandainya tidak, saya tetap berangkat. Seandainya saya berangkat minggu itu lalu saya kena SARS, saya meninggal, saya tetap berangkat.”

Elemen ketiga dari perwira yang membuat Yesus takjub, yaitu iman dia itu begitu memuliakan Tuhan. Yesus sudah dekat dengan rumah dia. Dia berkata, “Jangan datang. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku ini akan sembuh.” Penyembuhan pada saat itu harus dengan sentuhan. Lukas 8:44 seorang wanita yang pendarahan. Dia mengatakan, “Ketika saya menyentuh jubah Yesus, maka pendarahan itu akan berhenti.” Dia sentuh pendarahan itu berhenti. Ketika mayat itu kena tulang Elisa, mayat itu kemudian hidup. Tapi perwira Kapernaum ini mengatakan kepada Yesus, “Katakan saja sepata kata.” Dia sedang menyaksikan Yesus sebagai firman yang hidup.

Ini hal pertama yang kita belajar. Iman perwira yang membuat Tuhan Yesus takjub itu mempunyai tiga elemen yang sudah kita bahas. Yang kedua, perwira yang imannya menakjubkan Yesus ini dia bukan orang Yahudi. Ketika mengutus 12 murid, Tuhan Yesus mengatakan, “Kalian jangan menyimpang kepada bangsa-bangsa lain. Jangan masuk di dalam desa kota Samaria. Tapi pergilah kepada domba-domba Israel. Beritakan kerajaan surga sudah dekat. Sembuhkan orang sakit, bangkitkan orang mati, tahirkan orang kusta, usir setan.” Setelah Israel menjadi umat Tuhan yang sejati, kemudian Injil itu menyebar kepada bangsa-bangsa lain melalui Israel. Seperti dijanjikan oleh Tuhan kepada Abraham dalam kejadian 12:3. Tetapi Israel tidak percaya ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang bisu, buta dan kerasukan setan. Orang-orang Farisi mengatakan Yesus melakukan itu dengan kuasa Beelzebul, kuasa penghulu setan.

Tuhan kemudian berpaling dari Israel. Tuhan menciptakan satu elemen entitas yang namanya gereja yang merupakan Israel yang sejati. Dalam bacaan kita, kita melihat orang datang dari timur, barat datang makan di dalam kerajaan surga itu bersama-sama dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Tapi anak-anak kerajaan itu dicampakkan ke dalam kegelapan di luar sana dengan ratapan dan kertak gigi. Roma 2 mengatakan, “Jangan anggap sepi kesabaran Tuhan.” Kemurahan Tuhan itu menuntun engkau dan saya di dalam pertobatan. Kelapangan hati Tuhan itu ada batasnya. Ada titik di mana Tuhan mengatakan enough is enough. Jangan sia-siakan anugerah Tuhan. Jangan berpikir, “Saya masih hidup, masih ada kesempatan. Saya masih bisa diselamatkan oleh Tuhan.” Alkitab mencatat orang kaya dan Lazarus, orang kaya dikatakan setiap hari pakai jubah maha indah. Dia berpesta pora tiap hari. Dan dia tidak peduli Lazarus yang tiap hari di depan rumahnya menanti remah-remah makanan jatuh. William Barclay mengatakan zaman itu orang kaya dari toilet atau mungkin dari ladang tangannya hitam belum ada tisu pada saat itu. Kemudian orang kaya ambil roti lalu tangan yang hitam itu dibersihkan, lalu roti ini dilempar. Itu yang dimakan oleh Lazarus. Siapa yang meninggal lebih dulu? Lazarus. Mengapa Lazarus mati lebih dulu? Orang berpikir karena kemiskinan yang tidak memungkinkan dia untuk berobat saat tubuhnya sakit. Tetapi jangan salah, orang kaya tiap hari pesta pora, tiap hari makannya berlebihan, ini juga memungkinkan dia sakit. Tetapi fakta bahwa Lazarus mati lebih dulu artinya kesabaran Tuhan sudah habis kepada seorang kaya ini. Tidak ada lagi yang mengingatkan dia tentang belas kasihan Tuhan dalam hidup dia. Dia berkali-kali mengatakan bahwa Abraham bapaku. Kalau Abraham itu bapa dia, Abraham diberkati untuk memberkati. Saudara jangan berpikir bahwa orang kaya ke neraka dan orang miskin ke surga. Abraham jauh lebih kaya daripada orang kaya tersebut. Dia adalah bapa orang beriman. Lazarus masuk surga bukan karena orang miskin, karena nama Lazarus mempunyai arti God helps. Dia bergantung kepada belas kasihan Tuhan, anugerah Tuhan bagi hidup dia. Si orang kaya ini namanya tidak dicatat. Hanya identitas dia, yaitu orang kaya, yang dicatat  Artinya tumpuan hidup dia adalah kekayaannya. Itu segala-galanya bagi dia.

Setelah Lazarus meninggal, orang kaya ini kapan meninggal kita gak tahu. Tapi kesabaran Tuhan sudah habis. Dia bagaikan mayat hidup yang sedang hidup. Tidak selalu kesempatan itu ada. Salah satu bagian firman Tuhan dalam Perjanjian Baru yang paling-paling mengerikan terjadi saat Tuhan Yesus diadili oleh Herodes. Herodes menanyakan segala macam pertanyaan, tetapi Yesus diam. Samuel Rutherford mengatakan kalau Tuhan diam itu artinya neraka. Herodes adalah orang Idumea, keturunan Edom, keturunan Esau. Dia tahu kitab Musa dari Kejadian sampai dengan Ulangan. Tapi masih terus main-main dengan firman Tuhan, menghina firman Tuhan. Ketika bertemu dengan Tuhan Yesus, seolah-olah Tuhan mengatakan, “Enough is enough.” Kita melihat Yudas yang menerima anugerah Tuhan. Dia diberi nama oleh keluarga dia Yudas yang artinya Allah dipuji. Itu artinya dia dari keluarga yang mengasihi Tuhan. Yudas salah satu dari 12 rasul Yesus. Dia juga menjadi bendahara. Dalam Matius 26 setelah Yudas menjual Tuhan Yesus 30 keping perak, Tuhan Yesus masih mengundang dia untuk masuk ke dalam perjamuan suci bersama dengan Tuhan. Dan Yesus memberikan roti dan cawan itu kepada dia. Tapi Yudas kemudian menolak. Bagi saya itu setelah itu sudah tidak ada, Yudas sudah selesai. Meski Yudas masih bertemu Tuhan Yesus di taman Getsemani, di sana dia mencium Tuhan Yesus dan dia berkata, “Shalom, damai sejahtera Allah menyertai engkau.” Tapi dalam hati dia, habislah kamu. Tetapi sebelum itu Yesus sudah berkata, “Lakukanlah apa yang engkau mau lakukan.” Tuhan Yesus membiarkan Yudas. Ini hal yang kedua. Jangan sepelekan anugerah Tuhan. DI sini kita justru melihat perwira Kapernaum yang mempunyai iman begitu menakjubkan dan bukan orang Israel. Yang ketiga kita lihat perwira Romawi ini, ini dia dari pasukan Antipas yaitu begitu kejam dan begitu brutal. Saat itu Israel dijajah dan dipermalukan. Keil and Delitzsch memakai istilah polytheistic superstition. Artinya kalau satu Israel ketika dikalahkan Romawi, itu artinya Yahwe itu dikalahkan oleh dewa Romawi. Menurut John Martyr kemungkinan  penempatan perwira Romawi ini adalah strategi orang Romawi untuk menindas umat Tuhan, dia cari yang bermusuhan dengan umat Tuhan di situ. Menurut Matius 11 Kapernaum itu jauh lebih bebal daripada kota Sodom. Tuhan Yesus mengatakan kalau sampai mukjizat di Kapernaum itu dilakukan di kota Sodom, maka kota Sodom sampai hari ini masih exist. Di dalam hari penghakiman nanti, Kapernaum akan dihukum jauh lebih berat daripada Sodom. Si perwira ini begitu brutal dan dia menjajah umat Tuhan dari Kapernaum. Namun orang ini bisa beriman. Artinya Tuhan berbelas kasihan kepada dia. Tidak ada dosa yang begitu besar yang Tuhan tidak bisa ampuni. Asal engkau dan saya datang kepada Tuhan. Dalam 1 Timotius 1 Paulus mengatakan, “Aku dulu seorang penghujat, aku penganiaya, aku seorang yang ganas. Tapi aku diselamatkan oleh Tuhan. Aku orang yang paling berdosa. Tapi Tuhan Yesus menunjukkan kesabarannya kepadaku.” Sehingga tidak ada satupun dosa yang begitu besar yang Tuhan tidak bisa ampuni. Asal engkau dan saya datang kepada Tuhan. Yesaya 1:18, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmisi, aku Tuhan akan membuatnya putih seperti salju. Sekalipun dosamu merah seperti kain kesumba, aku akan membuatnya putih seperti bulu domba.” Ini hal yang ketiga. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dosa sebesar apapun asal engkau dan saya datang kepada Dia.

Keempat yang terakhir. Tempat di mana Tuhan begitu dicela, begitu direndahkan akan menjadi tempat di mana Tuhan begitu ditinggikan dan dimuliakan. Kapernaum lebih bebal daripada Sodom, di situ kita melihat Tuhan begitu ditinggikan seorang perwira yang mempunyai iman yang membuat Yesus takjub. Kitab Daniel mencatat umat Tuhan dibuang ke Babel, Yerusalem direbut. Perkakas di dalam Bait Allah diambil oleh raja Nebukadnezar dan dia menaruhnya di dalam rumah dewanya, dewa Nebo. Namun demikian kita melihat kitab Daniel adalah kitab yang begitu memuliakan Tuhan. Bagaimana Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dibuang ke dalam perapian yang menyala-nyala. Tuhan ditinggikan. Bagaimana Daniel di dalam gua singa, Darius begitu memuji Tuhan.

Satu kali di dalam seminarnya Profesor Richard Pratt mengatakan, “Tuhan kita itu gengsinya besar.” Seorang petinju besar tidak mau mempunyai lawan yang dia menangkan dengan mudah, karena itu tidak membawa kemuliaan baginya. Martin Luther mengatakan, “Iblis itu adalah God’s devil.” Bukan berarti iblis itu muncul dari Tuhan. Kita bisa katakan iblis tidak bisa melakukan apa-apa tanpa izin dari Allah. Tapi juga iblis itu asalnya dari malaikat yang juga adalah ciptaan. Bagaimana ciptaan mau lawan Allah. Gideon waktu mau perang, Tuhan hanya ijinkan pergi dengan 300 pasukan saja. Daud saat mau lawan Goliat, cukup dengan batu dan umban. Firman Tuhan mengatakan engkau dan saya menjadi terang, menjadi garam dan terang dunia. Yohanes 1:5 mengatakan, “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” Dan garam itu mengasinkan. Siapa di antara ibu-ibu di sini ketika masak sayur 1 kilo, pakai garam 1 kilo? Metafora garam dan terang ini sudah bersinggungan dalam hal pengorbanan.

Tuhan Yesus mengatakan, “Engkau dan saya diutus ke dalam dunia bagaikan domba di tengah-tengah serigala.” Saya bayangkan si perwira Kapernaum ini, dia sudah tidak lagi brutal. Dia tetap menjabat sebagai perwira, namun ia punya jabatan terancam. Lukas 7 mengatakan dia mengasihi umat Tuhan. Dia membantu pembangunan rumah ibadat. Ketika berita sampai kepada penguasa, dia mulai dicurigai. Dia harus siap dipecat, dikucilkan, dianiaya mungkin keluarganya. Ketika Zakheus bertobat, dia kasih separuh daripada harta dia itu dibagikan kepada orang miskin. Separuh lagi dipakai untuk membayar 4x lipat pada orang yang pernah dia peras. Itu yang paling maksimal di dalam kitab Imamat. Tapi itu bukan pengorbanan Zakheus yang paling besar. Zakheus tetap menjadi kepala pemungut cukai, tapi tidak lagi korupsi. Dia mulai dikucilkan, dia kemudian menjadi target. Dia kemudian dianiaya, mungkin dibunuh bersama dengan keluarga dia.

Ketika engkau dan saya menjadi saksi Tuhan dalam dunia ini, saksi dalam bahasa Yunani itu adalah martus, itu juga artinya martir. Kita bayangkan ketika kita menjadi saksi untuk kepala mafia di Jakarta untuk ditangkap, untuk membongkar segala kejahatan dia, pasti hidup kita menjadi sangat-sangat berbahaya. Bagi saya sejauh mana saudara dan saya berkorban, sejauh itu Tuhan memakai kita, sejauh itu kemuliaan Tuhan dinyatakan dalam hidupmu dan hidupku. Saya tutup dengan satu kisah nyata yang terjadi dalam diri Profesor Richard Pratt. Beliau salah satu pembicara utama di Global Convention. Sebelum convention mulai, beliau pergi ke Bali. Di sana beliau bersama dengan seorang yang belum percaya. Tetapi di Bali beliau collapse dan muntah sampai kehabisan cairan dan harus di bawa ke rumah sakit. Meski kondisinya cukup kritis, tetapi beliau tetap minta bisa berkhotbah di waktu yang sudah disiapkan panitia. Besoknya Richard Pratt khotbah dan khotbahnya sungguh jadi berkat. Richard kembali ke Orlando tempat Third Millennium Ministries. Beberapa bulan orang bertanya apa rahasia dia tetap melayani meski kondisi tubh lemah? Setelah menginjili bapak ini, akhirnya dia percaya pada Tuhan Yesus. Setelah itu si orang ini gencar sekali menginjili. Saudara dan saya mau dipakai Tuhan, apakah kita siap berkorban bagi Tuhan? Mari kita masuk di dalam doa.

Close
Close Search Window