Download versi cetak: 1283KebaktianPagi_2026-27-Sep_IR
Dipilih, Dipanggil, dan Dipelihara
Yohanes 6:35-48
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Kita sedang membahas tanda-tanda atau mukjizat-mukjizat yang Yesus kerjakan di dalam Injil Yohanes. Kita sudah sampai pada Yohanes pasal ke-6, di mana Yesus melakukan mukjizat memberi makan 5.000 orang dan berjalan di atas air. Setelah Yesus tiba di seberang, maka Dia mengatakan, “Akulah roti hidup.”Di dalam Injil Yohanes memang ada tanda-tanda yang kemudian diikuti dengan pengajaran. Kita membahas pengajaran ini dalam tiga bagian.
Bagian pertama sudah kita bahas dua minggu yang lalu, yaitu berbicara tentang bagaimana orang banyak mencari Yesus untuk alasan yang salah. Mereka mencari Yesus karena mencari roti, karena mereka melihat mukjizat spektakuler seperti yang Musa lakukan. Dan di situlah Yesus mengatakan bahwa apa yang Dia berikan itu jauh lebih besar daripada apa yang Musa berikan. Bukan sekadar roti yang mengisi perut untuk satu hari saja, seperti roti manna yang setiap hari hanya satu, tetapi roti hidup dari surga yang diberikan untuk setiap kita, sehingga siapa yang memakannya mendapatkan hidup yang kekal. Yesus mengatakan bahwa untuk memperoleh hidup kekal itu, maka mereka harus percaya kepada Yesus. Bukan hanya berfokus kepada apa yang Yesus bisa berikan, tetapi menjadikan Yesus itu sendiri sebagai yang terutama dalam hidup mereka.
Demikian juga kita merefleksikan bagaimana kita jangan menjadi jemaat yang sekadar mencari khotbah-khotbah yang baik untuk entertain dan memuaskan diri kita, tetapi pada akhirnya kita tidak menjadi semakin dekat dan serupa dengan Kristus. Maka saya pikir, tanda seorang pendeta yang diberkati Tuhan itu bukan sekadar karena khotbahnya baik. Karena untuk apa seorang pendeta bisa berkhotbah dengan baik kalau akhirnya jemaat memang disenangkan dengan khotbah-khotbah itu, tetapi bukan dengan Kristus yang hadir di dalam keseharian hidup mereka? Buat apa khotbah yang baik kalau akhirnya jemaat justru makin pintar menghakimi pengkhotbah-pengkhotbah lain, tetapi kehilangan kerendahan hati dan karakter yang semakin serupa dengan Kristus?
Buat apa kita mendapatkan khotbah yang baik kalau akhirnya kita makin mengagumi pendeta tertentu dan bukan Kristus itu sendiri? Bagi Hamba Tuhan, ini menjadi satu ujian, untuk apa khotbah Hamba Tuhan itu baik dan dikagumi oleh jemaat, tetapi akhirnya mereka menjadi semakin sombong? Bukankah dalam hal ini mungkin lebih baik sebuah gereja yang khotbah mingguannya biasa-biasa saja? Bukan khotbah yang salah tentunya, tetapi khotbah yang biasa saja. Namun, baik pendeta maupun jemaat sama-sama memiliki rasa kenyang dan puas di dalam Kristus itu sendiri. Biarlah di tengah-tengah segala berkat kelimpahan yang Tuhan berikan bagi gereja kita, kita sungguh-sungguh menemukan kepuasan hanya di dalam Kristus.
Maka bagaimana kita bisa mempunyai hati yang betul-betul mencari Kristus dan bukan yang lain? Kita akan melihat hal ini dengan membahas bagian kedua dari pengajaran Yesus. Predestinasi adalah bagaimana seseorang itu bisa percaya dan diselamatkan karena dia sudah terlebih dahulu dipilih dan ditentukan oleh Allah. Jadi untuk orang bisa diselamatkan dia harus percaya, tetapi orang bisa percaya karena dia telah dipilih dan ditentukan oleh Allah.
Ketika kita mendengar statement seperti itu, biasanya kita langsung merasa tidak nyaman. Langsung muncul pertanyaan-pertanyaan seperti, “Loh, kalau Allah sudah memilih siapa yang akan diselamatkan, apakah manusia masih punya kehendak bebas? Bukankah ini menjadi sesuatu yang tidak adil? Ada yang dipilih, ada yang tidak dipilih. Dan kalau Allah bisa menyelamatkan semua orang, kenapa Dia tidak menyelamatkan semua orang dengan memilih semuanya? Kalau semuanya sudah ditentukan, lalu buat apa lagi kita menginjili?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukanlah pertanyaan yang kita lontarkan dengan maksud kurang ajar. Ini juga sesuatu yang Paulus bahas di dalam suratnya. Bahkan, Alkitab dan Yesus Kristus sendiri tidak menghindari pembicaraan tentang hal ini. Salah satu bagian yang berbicara dengan sangat jelas mengenai doktrin pilihan atau predestinasi adalah bagian yang tadi kita baca. Maka, hari ini kita juga tidak akan menghindari bagian yang sulit ini. Kita akan mencoba membahasnya.
Saya ingin kita tidak melihat predestinasi ini hanya sebagai satu teka-teki atau sekadar perdebatan teologi. Karena tujuan doktrin ini bukan supaya kita menjadi lebih pandai di dalam berdebat atau supaya kita bisa memenangkan argumentasi teologi. Namun, supaya kita semakin melihat kasih karunia Allah, semakin rendah hati, semakin yakin akan keselamatan kita, semakin giat memberitakan Injil, dan semakin bergantung kepada Allah di dalam doa. Predestinasi bukanlah sekadar teori atau doktrin yang kaku dan dingin, tetapi ini adalah pemikiran yang seharusnya sangat memengaruhi bagaimana kita hidup di hadapan Allah yang telah menyelamatkan kita oleh kasih karunia-Nya.
Saya ingin mengajak kita merenungkan bacaan kita hari ini dengan melihat dua bagian besar. Yang pertama, kita akan membicarakan sedikit tentang konsep predestinasi atau doktrin pilihan, termasuk beberapa keberatan yang sering muncul terhadap doktrin ini. Tetapi yang saya harapkan menjadi fokus utama kita nanti adalah: kalau kita percaya pada doktrin ini, lalu apa aplikasinya? Apa dampaknya bagi kehidupan kita sebagai orang percaya?
Yang pertama, mengenai doktrin pilihan atau predestinasi, ini adalah sesuatu yang kita pegang, karena kita percaya bahwa manusia tidak mampu datang kepada Allah. Di dalam Yohanes pasal 6, ada begitu banyak paralel antara perikop tentang roti hidup ini dengan kisah orang Israel di Perjanjian Lama ketika mereka menerima manna dari Tuhan di padang gurun. Bukan hanya ada paralel antara Musa dan Yesus. Bukan hanya ada paralel antara manna dan roti hidup. Tetapi ada juga paralel dalam respons dari orang banyak. Di dalam kedua kisah itu, kita melihat bagaimana Musa dan Yesus sama-sama berhadapan dengan orang banyak yang hatinya keras. Orang banyak yang terus bersungut-sungut dan tidak percaya.
Orang banyak di dalam Yohanes 6 itu sudah melihat apa yang Yesus kerjakan. Mereka sudah melihat tanda yang luar biasa. Mereka sudah melihat kuasa Yesus. Mereka sudah mendengar pengajaran-Nya. Bahkan keesokan harinya mereka masih mencari Yesus. Tetapi mereka akhirnya mengatakan, “bagaimana kamis bisa percaya?” Maka masalah manusia itu bukan sekedar kekurangan bukti atau informasi.
Maka, apa yang akhirnya bisa membuat manusia percaya dan datang kepada Yesus? Perhatikan kata ‘dapat’ di dalam ayat ke-44. Yesus tidak mengatakan, “tidak ada seorang pun yang mau datang”, tetapi Dia mengatakan, “tidak ada seorang pun yang dapat datang.” Inilah yang kita kenal sebagai ketidakmampuan rohani (spiritual inability) di dalam teologi Reformed. Dosa bukan hanya membuat kita melakukan hal-hal yang salah. Dosa juga merusak hati kita, sehingga dari dalam diri kita sendiri, kita memang tidak menginginkan Allah. Maka ketika terang itu datang ke dalam dunia, manusia lebih suka kegelapan daripada terang itu. Ini adalah sesuatu yang kita lakukan dengan sukarela. Tidak ada manusia yang dipaksa untuk berdosa. Keinginan hati kita dibelenggu oleh dosa. Sehingga betul kita memilih apa yang kita inginkan, tetapi hati kita tidak menginginkan Allah, hati kita menginginkan dosa.
Kalau begitu muncul keberatan: kalau manusia memang tidak dapat datang kepada Allah karena hatinya sudah begitu terikat oleh dosa, apakah manusia masih harus bertanggung jawab? Kalau manusia memang tidak dapat percaya, kenapa Allah masih memerintahkan manusia untuk percaya? Ketidakmampuan manusia di dalam konteks ini bukan seperti orang yang lumpuh secara fisik, kemudian ingin berjalan namun tidak bisa. Ketidakmampuan manusia di dalam konteks ini adalah secara moral dan rohani. Jadi jangan bayangkan orang yang kakinya lumpuh kemudian dipaksa berjalan. Maka gambaran yang lebih tepat adalah orang yang telah diperbudak dan kecanduan oleh dosa. Kita tidak akan terus membiarkan orang yang kecanduan kepada sesuatu yang jelek. Namun, Kita akan membawa dia untuk berhenti dan memilih hal-hal yang benar. Demikian juga ketika kita menyukai dosa, itu adalah sesuatu yang salah dan kita harus berhenti dari hal itu. Kita harus bertanggung jawab ketika apa yang kita sukai dan apa yang kita pilih adalah dosa.
Inilah kabar baik dari Injil. Ketika masalah terbesar kita adalah sesuatu yang kita tidak mampu selesaikan sendiri, Injil mengatakan keselamatan dimulai dari Allah, bukan dari manusia. Perhatikan urutan di dalam ayat ke-37, bukan manusia yang mencari Allah, lalu manusia percaya, dan Allah memilih dia, tetapi Bapa memberikan kita kepada Anak, sehingga kita bisa datang kepada Kristus. Ketika kita datang kepada Kristus, Dia tidak membuang kita, tetapi Dia akan memelihara kita sampai kebangkitan. Inilah kasih karunia Allah yang berdaulat (the sovereign grace of God). Allah memilih, Allah memanggil, dan Allah memelihara. Allah memilih umat-Nya sebelum mereka melakukan sesuatu yang membuat mereka layak dipilih.
Lalu muncul keberatan yang kedua: “Kalau begitu, bukankah Allah tidak adil?” Kalau Allah memilih sebagian orang dan tidak memilih yang lain, bukankah itu namanya pilih kasih? Namun, kita perlu memahami apa yang sebetulnya dimaksudkan dengan anugerah. Kalau keselamatan adalah sesuatu yang Allah wajib berikan kepada semua orang, maka itu disebut obligasi, bukan anugerah. Kalau keselamatan itu adalah obligasi dan kewajiban yang Tuhan harus berikan kepada semua orang berdosa, barulah kita bisa mengatakan bahwa Tuhan tidak adil. Namun, kalau keselamatan itu adalah anugerah, maka kita sama sekali tidak bisa menuntut itu sebagai hak kita. Karena semua manusia telah berdosa di hadapan Allah. Kalau mau adil, semua manusia harusnya dibinasakan. Maka seharusnya kita bertanya, kenapa Allah memberikan anugerah kepada kita yang berdosa ini. Tentu kita tahu jawabannya adalah karena kasih karunia Dia. Kalau kita sadar akan hal ini, kita tidak akan pernah bisa berkata bahwa kita diselamatkan karena kita lebih baik daripada orang lain.
Bagaimana orang yang dipilih itu akhirnya bisa menjadi percaya? Ini adalah poin berikutnya, yaitu Allah memanggil. Allah kita itu bukanlah sekedar Allah yang hanya memilih dari jauh. Dia adalah Allah yang memberikan firman kepada kita dan melalui firman itu Dia bekerja di dalam hati kita. Inilah yang kita sering sebut sebagai effectual calling atau panggilan efektif. Melalui firman Tuhan, Allah membuka mata yang buta. Allah melembutkan hati yang keras. Allah membuat orang yang sebelumnya tidak menginginkan Kristus, akhirnya melihat Kristus sebagai sesuatu yang indah dan berharga. Jadi ketika Allah menarik seseorang kepada Kristus, itu bukan seperti sedang menyeret manusia seperti benda mati. Namun Allah mengubah hati orang itu yang tadinya menginginkan kegelapan, sekarang merindukan dan haus akan terang. Ketika hati itu diubah, maka orang itu datang kepada Kristus dengan keinginan hatinya.
Terkait hal ini, biasanya muncul keberatan lain, yaitu bukankah manusia itu seperti robot yang tidak ada freewill? Yohanes 6 tidak memberikan gambaran manusia yang seperti robot. Yesus mengatakan, “Barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Orang yang percaya dan kemudian datang kepada Kristus bukanlah seorang yang dipaksa melawan kehendaknya. Ada dua sisi di sini, dari sisi manusia, manusia datang kepada Kristus. Mereka yang menolak Kristus, memang menolak dari keinginan hatinya sendiri. Namun, dari sisi karya Allah, manusia datang kepada Kristus karena Bapa menarik hati manusia itu. Pemilihan Allah yang berdaulat dan tanggung jawab manusia, kedua-duanya ada dan kita tidak boleh menghapus salah satu dari dua aspek itu, karena kedua hal ini bukanlah kontradiksi.
Setelah Allah memilih dan memanggil, Allah juga memelihara. Predestinasi tidak berhenti pada Allah yang sekadar memilih. Namun berlanjut kepada Allah yang menarik, memanggil, dan kemudian memelihara. Dalam ayat ke 39 dan 40, Kristus berjanji bahwa tidak ada satu orang pun dari yang diberikan Bapa kepada-Nya akan terhilang. Maka keselamatan bukan hanya mengenai bagaimana kita mulai percaya kepada Kristus, tetapi juga mengenai bagaimana Kristus yang akan memelihara kita sampai akhir.
Sekali lagi muncul keberatan berikutnya, kalau begitu, untuk apa kita menginjili? Untuk apa kita berdoa? Kalau Allah sudah menentukan siapa yang akan diselamatkan, mengapa kita masih harus memberitakan Injil, hidup dengan setia, dan berdoa? Karena Allah bukan hanya menetapkan hasil akhirnya, tetapi Allah juga menetapkan jalan yang setiap orang harus dilalui dan sarana yang dipakai. Kitab Roma mencatat, bagaimana orang bisa percaya kepada Yesus kalau mereka tidak pernah mendengar tentang Yesus? Maka untuk seseorang bisa percaya kepada Yesus, tetap perlu ada pemberitaan tentang Yesus. Allah memakai pemberitaan Injil. Allah memakai doa kita. Allah memakai gereja. Maka predestinasi bukan alasan untuk kita menjadi pasif. Justru karena Allah berdaulat, maka kita dapat pergi dan memberitakan Injil dengan penuh keberanian. Karena pada akhirnya bukan karena kemampuan kita sehingga orang itu bisa percaya, itu semua adalah pekerjaan Allah. Tugas kita adalah memberitakan Kristus dengan setia.
Setelah kita membahas akan pengertian dari doktrin predestinasi, maka apa dampak dari doktrin ini di dalam hidup kita? Kalau predestinasi itu benar, apa bedanya hidup kita sekarang? Kalau kita memisahkan pengertian teori dengan praktiknya, ini yang kadang menjadi racun di dalam doktrin predestinasi. Kalau kita mengerti doktrin ini hanya untuk dipikirkan dan untuk diperdebatkan, maka akan makin muncul banyak pertanyaan yang membuat kita berpikir bagaimana caranya bisa seperti ini. Namun, kalau kita belajar untuk menghidupkan, maka kita akan menemukan bahwa doktrin predestinasi ini sangat masuk akal.
Maka saya ingin mengajak kita melihat enam dampak dari doktrin predestinasi di dalam hidup kita. Pertama, predestinasi seharunya membuat kita makin hidup berpusat kepada Allah. Banyak sekali dalam pengajaran Yesus di bagian ini, dia berbicara tentang ‘Aku’. Yang menjadi pusat perhatian dari pengajaran ini adalah Yesus Kristus itu sendiri. Kalau kita bertanya, sebenarnya siapa orang-orang yang diselamatkan itu? Maka jawabannya adalah, orang-orang yang diselamatkan adalah orang-orang yang Allah Bapa berikan kepada Kristus untuk menjadi milik-Nya.
Keselamatan kita bukanlah dari keputusan kita sendiri, tetapi karena kita diberikan Bapa kepada Anak. Kristus yang telah menerima kita. Maka kita diselamatkan karena Allah telah menggenapi rencana-Nya di dalam diri kita. Menjadi orang Kristen bukan sekedar menjadi orang yang mencari kebahagiaan dan kenikmatan. Kita berdoa bukan untuk mendapatkan comfort dalam kehidupan ini. Pada akhirnya, ketika kita menjadi orang Kristen, kita dipilih untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan.
Kedua, pengertian bahwa kita dipilih seharusnya memberikan kepada kita keamanan dan kepastian. Yesus mengatakan, “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Ini adalah salah satu janji yang paling menghibur di dalam kitab suci, bahwa keselamatan kita tidak bergantung dari seberapa kuat kita memegang tangan Kristus, tetapi sebaliknya, seberapa kuat Kristus memegang tangan kita. Tentu ini bukan alasan untuk kita bermain-main dengan dosa, tetapi bagi orang percaya yang sedang sungguh-sungguh bergumul dengan dosa, ini adalah penghiburan yang besar. Maka ketika kita jatuh, respons kita seharusnya bukan “Oh, saya sudah gagal, tidak ada gunanya kembali.” Namun, jikalau kita telah gagal, kita harus datang kembali kepada Kristus yang tidak akan membuang siapa pun yang datang kepada-Nya.
Ketiga, ketika kita percaya akan predestinasi, ini seharusnya membuat kita untuk memiliki kerendahan hati. Kalau kita bisa percaya kepada Kristus, itu semua adalah kasih karunia. Tidak ada yang bisa kita banggakan. Ini juga seharusnya mengubah cara pandang kita kepada orang lain yang belum percaya. Kadang kita melihat ada orang yang hatinya begitu keras, sudah dijelaskan berkali-kali tetapi masih tidak mengerti. Namun, pengajaran ini mengingatkan kita, bahwa kita dulu datang kepada Kristus bukan karena kita lebih baik. Kalau kita bisa percaya, itu karena Tuhan membuka hati kita, itu adalah kasih karunia dari Tuhan. Pengertian ini seharusnya membuat kita lebih rendah hati dan bahkan lebih bisa mengasihi teman-teman kita yang belum percaya.
Keempat, pengertian akan predestinasi seharusnya memberikan kepada kita pengharapan bagi orang-orang yang tampaknya sudah sangat jauh dari Tuhan. Mungkin ada orang-orang yang sudah sangat lama kita doakan, tetapi tidak ada perubahan yang kelihatan. Terkadang kita bisa berpikir bahwa mungkin orang ini tidak dipilih. Namun, mungkin Tuhan memilih orang ini, tetapi memang belum saatnya. Karena orang yang sekeras Paulus sekalipun, orang yang melawan Tuhan dan menganiaya gereja, kita melihat bagaimana Tuhan mengubah hidup Paulus. Pengertian akan doktrin predestinasi seharusnya memberikan kepada kita pengharapan bahwa tidak ada hati yang terlalu keras bagi Allah untuk membuka. Tugas kita hanyalah terus berdoa, terus mengasihi, dan terus bersaksi kepada orang itu.
Kelima, pengertian akan doktrin predestinasi ini seharusnya membuat kita lebih berani dan lebih jujur di dalam menginjili. Terkadang ini terdengar paradoks. Kalau Allah sudah menentukan siapa yang diselamatkan, mengapa kita masih perlu menginjili? Justru kita harus berpikir sebaliknya. Kalau keselamatan seseorang itu bergantung kepada kemampuan saya memberitakan Injil, ini menjadi pelayanan yang sangat-sangat menyiksa. Namun, karena kita percaya bahwa keselamatan seseorang karena pilihan Allah, maka kita berani beritakan Injil dengan segala kelemahan kita. Kita berani menjelaskan siapa itu Kristus dan mengundang orang itu untuk datang kepada Kristus. Dan terkait dengan poin kelima ini, seharusnya kita makin bergantung kepada Tuhan dalam doa. Karena kalau kita betul-betul percaya bahwa tidak ada seorang pun dapat datang kepada Kristus, kecuali Allah Bapa menarik orang itu, maka ini adalah pekerjaan yang hanya Allah yang dapat lakukan. Karena itulah kita perlu terus berdoa.
Maka ketika kita melayani orang lain yang belum percaya, kita bukan saja berdoa, “Tuhan berikan saya kata-kata yang tepat,” tetapi kita juga harus berdoa, “Tuhan bukakan hatinya.” Ketergantungan ini juga berlaku bagi kehidupan kita sendiri, bukan sekedar kepada orang yang kita layani. Kita membutuhkan Allah bukan hanya untuk memulai keselamatan dalam diri kita, tetapi kita membutuhkan anugerah Allah untuk terus hidup dalam iman. Ketika kita bergumul dengan dosa, kita berdoa. Ketika iman kita lemah, kita berdoa. Ketika kita melayani tetapi tidak melihat hasil, kita berdoa. Karena dari awal sampai akhir, keselamatan adalah pekerjaan kasih karunia Allah. Justru karena Allah berdaulat, maka kita berdoa kepada Dia.
Di dalam Yohanes 6, kita melihat ada banyak orang yang melihat Yesus, tetapi tidak percaya. Karena manusia memang tidak mampu datang kepada Kristus dengan kekuatannya sendiri. Orang bisa datang kepada Kristus karena Allah Bapa yang memberikan anugerah itu. Allah Bapa yang menarik sehingga kita bisa datang kepada Kristus. Kristus yang menerima kita, Dia tidak akan membuang kita dan Dia akan menjaga kita. Semua ini seharusnya membawa kita kepada doksologi, hidup yang berpusat kepada Allah. Kiranya melalui semua pengertian ini, kita semua kembali melihat kebesaran Tuhan di dalam hidup kita.
Apa yang membuat kita percaya kepada Yesus, sang roti hidup? Bukankah dia anaknya Yusuf dan Maria? Kenapa kita harus percaya kepada Dia? Kita tidak mungkin bisa percaya kepada seorang yang sudah mati dan bangkit 2000 tahun yang lalu dan kita bahkan tidak pernah bertemu dengan-Nya. Kita tidak mungkin percaya, kalau bukan Tuhan yang bekerja di dalam hati kita. Ketika Dia bekerja di dalam hati kita, Dia memberikan kita kepada Kristus sebagai hadiah. Kita orang-orang yang dipilih, dipanggil, dan kemudian ditarik. Kita dimiliki oleh Kristus. Kita akan dipelihara oleh Kristus sampai kesudahan zaman dan kita juga dipanggil untuk menjadi kesaksian bagi kemuliaan nama Tuhan.
Maka kita perlu pikirkan, untuk apa memanggil dan menyelamatkan kita? Tuhan ingin menjadikan hidup kita sebagai kesaksian atas anugerah Allah. Biarlah kita tetap ada kerendahan hati dan memiliki semangat untuk terus memberitakan Injil menjadi saksi bagi nama Tuhan. Bagi kita yang sedang bergumul dalam dosa dan lemah iman, biarlah hal ini mengingatkan kepada saudara bahwa dalam Kristus ada jaminan keselamatan. Bagi kita yang sudah bertahun-tahun berusaha menginjili seseorang, biarlah kita tetap punya pengharapan di dalam Tuhan. Bagi kita yang belum percaya kepada Kristus, jangan sekedar duduk dan bertanya apakah kita orang pilihan? Namun, terimalah undangan Yesus yang terbuka: “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Datanglah kepada Kristus dan lihatlah bahwa dia adalah Allah yang mengasihi engkau. Biarlah pada hari ini perenungan kita membawa kita kepada doksologi seperti yang Paulus katakan: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”