Download versi cetak: 1280_1453_KebaktianPagiSpre_2026-06Sep_IR
Tuhan yang Masuk ke Dalam Badai
Yohanes 6:16-21
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Kita sudah membahas mukjizat yang keempat, Yesus memberi makan 5000 orang minggu lalu. Hari ini kita akan membahas mukjizat atau tanda kelima, Yesus berjalan di atas air. Kalau kita bicara kisah dalam Injil tentang para murid dalam perahu dan mengalami badai, setidaknya ada dua kisah yang berbeda terjadi yang dicatat para penulis injil. Yang pertama, kisah yang terjadi lebih awal secara kronologi, yaitu kisah Yesus tertidur dalam kapal bersama para murid. Yesus sudah berada dalam kapal itu bersama para murid, tetapi Dia tertidur pulas. Kemudian para murid mengalami badai angin ombak dan mereka takut tenggelam. Waktu itulah para murid membangunkan Yesus dari tidur-Nya. Mereka berteriak, “Guru, tidakkah engkau peduli?”, kemudian Yesus bangun, Dia menghardik badai dan badai itu reda. Kisah ini dicatat dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas, tetapi tidak dicatat dalam Injil Yohanes. Kisah yang tadi kita baca itu secara kronologi terjadi setelah peristiwa Yesus tertidur dalam kapal, persisnya setelah Yesus selesai memberi makan 5000 orang. Dikisahkan bahwa awalnya hanya para murid di kapal. Yesus tinggal di tempat itu pergi ke bukit untuk berdoa sampai malam. Kemudian ketika dilihat bahwa para murid mengalami badai, diceritakan Yesus menghampiri mereka dengan berjalan di atas air. Kisah ini dicatat dalam Injil Matius, Markus, dan Yohanes. Jadi Matius dan Markus mencatat dua peristiwa ini, Lukas hanya mencatat Yesus tertidur di perahu. Yohanes mencatat peristiwa Yesus berjalan di atas air. Ketika Yesus berjalan di atas air, menghampiri perahu para murid, para murid menjadi ketakutan melihat Yesus karena mereka mengira itu hantu. Setelah itu, Yesus mengatakan, “Aku ini, jangan takut”. Untuk kisah ini, sebetulnya Injil Matius itu paling lengkap.
Karena dalam Injil Matius kisah ini juga diceritakan bagaimana nanti Petrus ingin menguji, “Tuhan kalau itu memang Engkau, suruh aku juga berjalan di atas air menghampiri Engkau.” Tapi bagian ini tidak dicatat dalam Injil Yohanes. Injil Matius dan Markus juga menceritakan bagaimana setelah Yesus naik ke atas kapal, diceritakan badai itu reda. Tapi ada hal yang berbeda dicatat oleh Injil Yohanes, yaitu dikatakan setelah Yesus naik ke perahu itu, langsung mereka tiba di tujuan.
Memang banyak detail yang dihilangkan dari kisah Yesus berjalan di atas air ini dalam Injil Yohanes. Tapi satu hal yang paling penting, yang menjadi inti yang ingin dinyatakan Yohanes, adalah pernyataan Yesus yang juga dicatat dalam dua Injil lainnya, bagaimana Dia mengatakan, “Aku ini, jangan takut”. Apa yang bisa dipelajari dari kisah ini? Baik kita sebagai gereja Tuhan maupun anak-anak Tuhan yang menghadapi badai. Ketika kita melihat cerita ini, biarlah kita tidak sekedar memikirkan bagaimana kita lepas dari badai, tetapi Tuhan seperti apa yang kita sembah dalam badai. Kita akan melihat tiga hal tentang siapa Yesus yang dinyatakan dalam kisah ini.
Yang pertama, kita melihat dalam kisah ini, Yesus adalah Allah yang berdaulat, yang berkuasa atas badai. Yesus adalah Tuhan atas badai. Kita membayangkan hari itu sudah selesai pelayanan kasih makan 5000 orang, matahari terbenam, hari mulai malam, para murid berada dalam perahu dan mereka mendayung. Angin, badai itu bukan hal baru bagi mereka. Setelah kisah Yesus tertidur ketika mereka mengalami badai, sepertinya juga tidak dicatat bagaimana para murid ini takut kepada angin sakal ini. Tetapi yang berbeda dalam cerita ini adalah saat itu Yesus tidak bersama mereka dalam kapal. Angin bertiup semakin kencang, laut semakin bergelora. Itulah yang seringkali menjadi gambaran gereja Tuhan atau kehidupan anak-anak Tuhan di dunia ini. Perahu itu, seringkali digambarkan sebagai gereja, dan badai itu adalah gambaran segala macam kesulitan, tantangan yang terjadi dalam dunia ini. Inilah situasi yang sering dirasakan oleh gereja atau anak-anak Tuhan. Tiba-tiba mereka menemukan diri menghadapi tantangan dan kesulitan, seolah Tuhan tidak bersama mereka. Kita bisa memikirkan kenapa kita gereja Tuhan, anak-anak Tuhan bisa mengalami badai? Jawaban yang pertama, yang mudah mengatakan karena kita tinggal dalam dunia yang di bawah dosa. Dunia di mana ada penyakit, bencana alam, kematian, konflik, ketidakadilan dan kegagalan. Maka kita tidak seharusnya berteologi ‘kalau saya ikut Tuhan maka hidup saya pasti lancar.’ Para murid ikut Yesus tetapi mereka tetap ada dalam badai. Ini berarti gereja dan anak-anak Tuhan tidak kebal terhadap badai dunia yang berdosa. Gereja yang setia bisa mengalami kesulitan. Gereja yang memberitakan Injil malah menghadapi penganiayaan. Gereja yang dengan berdoa, dengan takut, gentar, dan setia masih bisa mengalami saat-saat di mana pelayanan itu seperti mendayung melawan angin sakal yang kuat. Kalau saudara ikut kemarin SPIK tentang cosmic warfare, saudara pasti disadarkan bahwa justru gereja Tuhan yang sehat adalah gereja yang mengalami banyak peperangan. Kalau mau yang tenang, rest, peace, itu di kuburan, “rest in peace“. Sebaliknya gereja yang penuh dengan konflik dan tantangan justru menunjukkan gereja itu hidup. Sebagai orang Kristen, kita hidup dalam dunia di mana mau tidak mau kita ada dalam peperangan rohani.
Tapi yang kedua mungkin lebih tepat untuk gambaran kisah ini. Ketika kita bertanya, kenapa Tuhan, saya mengalami badai? Terkadang jawabannya bukan sesederhana karena dunia ini masih dalam dosa. Karena dalam kisah ini, kenapa para murid ada dalam perahu dan mengalami badai? Karena Tuhan memerintahkan mereka untuk pergi naik perahu dan mengalami badai itu. Inilah kadang menjadi bagian yang kita tidak nyaman untuk bicarakan. Para murid bukan sekedar diizinkan mengalami badai, tetapi dalam Injil Matius dan Markus itu sangat jelas bagaimana Yesus mengutus mereka ke dalam perahu. Mereka mengalami badai karena mereka taat kepada perintah Yesus. Maka tidak semua badai yang kita alami dalam hidup ini adalah akibat ketidaktaatan. Kadang mungkin seringkali, justru badai yang kita alami adalah karena kita taat kepada perintah Yesus. Badai yang kita alami memang adalah apa yang Tuhan Yesus ingin kita alami. Karena Tuhan terkadang mengizinkan kita mengalami badai supaya kita sadar bahwa kita tidak punya kendali atas hidup ini. Kesadaran ini kadang adalah anugerah yang kita dapatkan hanya ketika melewati badai. Sebagai manusia seringkali kita cenderung membangun dan mengandalkan sekoci-sekoci kecil yang kita buat dalam hidup ini, dengan anggapan kalau saya naik ke perahu ini maka saya bisa mengendalikan hidup. Perahu ini akan membuat saya tetap mengapung di atas air dan membawa saya ke manapun saya mau. Sekoci-sekoci kecil ini bisa berupa berbagai macam hal yang kita pikir dengannya kita bisa mengendalikan situasi. Selama saya punya tabungan segini maka hidup saya akan aman-aman saja. Kalau saya dapat pekerjaan ini, maka masa depan saya akan terjamin. Selama saya hidup sehat, maka saya tidak masalah akan hal yang lain. Kita mengandalkan sekoci-sekoci berupa reputasi kita, pengalaman kita, strategi-strategi hidup kita. Sekali lagi ini bukanlah hal-hal yang jelek pada dirinya sendiri. Tetapi ini menjadi sangat bahaya ketika kita pikir dengan punya ini, maka saya pasti akan baik-baik saja. Untuk menyadarkan kita akan hal ini, itulah kenapa kadang badai itu datang dalam hidup ini. Tiba-tiba kita diajar untuk menemukan ternyata sekoci hidup saya ini tidak cukup kuat. Inilah anugerah besar yang kita dapatkan hanya dalam badai. Ketika kita sadar ternyata kita tidak bisa mengendalikan banyak hal dalam dunia ini, maka barulah hal mengejutkan berikutnya terjadi dalam hidup kita. Sebagaimana ketika para murid sudah mulai kewalahan, mereka mendayung dan mendayung tetapi tidak maju-maju, tiba-tiba mereka melihat satu sosok yang berjalan di atas air. Ketika mereka melihat ini, mereka dikatakan justru makin merasa takut. Karena mereka melihat ternyata di luar sana ada yang lebih besar dari badai yang sedang kualami ini. Sekalipun waktu itu mereka pikir itu adalah hantu, mereka takut. Karena mereka melihat, badai ini saja aku tidak bisa kendalikan dan sekarang aku harus berhadapan dengan sosok yang jauh lebih besar daripada badai ini. Inilah pengertian kedua yang hanya bisa kita dapatkan setelah kita melewati badai yang besar. Bahwa sebesar-besarnya badai yang kita alami, ada yang lebih besar daripada semuanya itu. Kalau kita belum terlalu mengenal Dia yang lebih besar daripada badai itu, mungkin kita juga akan merasa takut, gelisah, karena kita berhadapan dengan sosok yang lebih besar lagi yang jauh lebih tidak bisa kita kendalikan.
Ketika Yesus menghampiri para murid, dia menyatakan, “Aku ini, jangan takut”. Aku ini, ego eimi (ἐγώ εἰμι), itu adalah kalimat yang tidak biasa. Itu bukan sekedar “Ini saya”, tetapi yang dikatakan Yesus di sini adalah lebih harfiahnya seperti ini, “I AM, do not be afraid“, “AKU ADALAH, maka jangan takut”. Ketika Yesus mengatakan hal ini, para murid orang Israel tahu istilah I AM (AKU ADALAH) merujuk kepada siapa, mereka pasti akan langsung teringat, kepada kisah Musa yang berhadapan dengan Allah yang membebaskan nenek moyang mereka keluar dari Mesir. Ketika Musa bertanya kepada Allah yang membebaskan bangsa Israel, “Siapa Engkau?”, Tuhan menjawab, “I AM“. Itulah yang Yesus nanti nyatakan dalam Injil Yohanes, ada tujuh perkataan “I AM” dalam Injil Yohanes. Salah satunya di sini “I AM – maka jangan takut”. Kita mengingat bahwa peristiwa ini terjadi persis setelah Yesus memberi makan 5000 orang. Tercatat itu adalah hari-hari menjelang Paskah.
Paskah, adalah momen di mana orang Israel mengingat bagaimana Allah “I AM” ini membawa mereka keluar dari Mesir, dengan cara Allah menuntun mereka menyeberangi laut. Itulah Allah I AM yang disembah oleh orang Israel. Gambaran Allah yang menembus lautan itu adalah gambaran yang terus mewarnai imajinasi orang Israel sepanjang zaman. Itulah yang sering ditulis dalam lagu-lagu mazmur mereka, misalnya dalam Mazmur 77:17 dan Maz 77:20. Gambaran Allah yang menembus lautan itulah yang sekarang berhadapan dengan para murid. Para murid sadar bahwa Yesus yang mereka ikuti selama ini adalah I AM itu sendiri. Ketika mereka sadar ini Yesus dan Yesus adalah I AM, bukan hantu, justru mereka semakin takut. Karena manusia berdosa tidak akan tahan berdiri di hadapan I AM. Dalam kisah orang Israel di padang belantara ketika Allah menampakkan diri di atas Gunung Sinai dalam bentuk api, asap, guntur, dan kilat, orang Israel mengatakan kepada Harun, “Sudahlah kami begitu takut berhadapan dengan Allah seperti ini. Harun, sekarang buatkan kami patung lembu emas”. Patung lembu emas itu bukan Allah lain bagi orang Israel. Mereka mau sembah Tuhan yang bebaskan mereka dari Mesir. Makanya setelah patung emas itu jadi, Harun mengatakan: inilah Allah yang bebaskan kamu keluar dari Mesir. Jadi, orang Israel pun sebetulnya mau menyembah Allahnya Musa, tetapi mereka tidak tahan menyembah Allahnya Musa, yaitu Allah YHWH sebagaimana Dia adanya. Allah yang adalah api, asap, gemuruh. Allah seperti itu tidak bisa mereka prediksi, kendalikan di tangan mereka, jadi mereka tidak mau sembah Allah seperti itu. Maka mereka mengatakan, kita buat Allahnya lebih imut saja, patung lembu emas. Setidaknya patung lembu emas ini tidak terlalu menakutkan, bisa dilihat, dipegang, ini allah yang lebih cocok maunya kita. Seringkali itulah yang kita lakukan kepada Allah kita. Allah yang akhirnya kita minimalkan supaya kita merasa pegang kendali hidup kita. Ketika ada badai yang membuat kita sadar kita tidak bisa mengontrol badai di hadapan kita, barulah kita sadar yang bisa membuat kita tidak takut hanyalah Allah yang adalah I AM itu sendiri. Allah yang tidak bisa kita kendalikan, tapi juga Allah yang lebih besar daripada badai. Maka jangan kaget kalau Yesus mengirimkan badai dalam kehidupan kita. Ketika badai itu bergelora, Yesus tidak mengatakan, ‘jangan takut, badai ini sebentar lagi akan lewat’, juga tidak menyuruh kita ‘bertahan dan ambil hikmahnya’. Yesus tidak meminimalkan badai yang Dia berikan, tetapi justru di situ Dia menyatakan diri-Nya dengan lebih maksimal.
Yesus katakan “I am maka jangan takut”. Tidak ada jaminan badai ini akan selesai dalam hidupmu. Tidak ada jaminan badai ini akan cepat menjadi lebih reda. Tapi apapun yang akan terjadi, lihatlah Aku. I am who I am. Inilah kenapa kadang anak-anak Tuhan yang Dia kasihi itu diizinkan mengalami badai. Supaya kita menyadari bahwa sekoci-sekoci kecil yang seringkali kita andalkan itu tidak ada apa-apanya. Supaya kita melihat ada yang lebih besar daripada sekoci kita, lebih besar daripada badai di hadapan kita. Ada Tuhan atas badai yang datang kepada kita dan mengatakan, ‘Jangan takut.’ Jangan takut bukan karena badai akan segera selesai. Jangan takut karena Aku adalah, Aku lebih besar daripada semuanya ini. Tuhan mau supaya kita keluar dari perahu kecil kita dan masuk ke dalam perahu yang Dia sediakan. Mungkin di atas perahu Tuhan kita tidak lagi memegang kendali, tapi di atas perahu Tuhan, Dialah yang menjadi kapten kapal dan pada Dia kita bisa berlindung.
Ada perumpamaan dua orang yang membangun rumah. Satu orang membangun rumah di atas pasir dan satunya lagi di atas batu. Setelah rumah itu jadi terlihat sama-sama besar, sama-sama indah, sama-sama megah. Pertanyaannya bagaimana kita tahu fondasinya itu terbuat dari apa? Karena dari luar sama-sama kelihatan indah dan baik. Jawabannya lagi-lagi adalah ketika badai atau banjir datang baru kita tahu fondasi kita itu apa. Keller mengatakan kalau kita membangun hidup kita di atas kecantikan wajah, maka nanti akan ada datang badai umur yang membuat kita semakin tua. Kalau kita bangun hidup kita di atas karir, akan datang badai resesi atau badai kompetisi. Kalau kita bangun hidup kita di atas cinta romantis, ada badai penolakan, badai singleness, badai di mana kita rasa kesepian. Badai-badai inilah yang menyatakan kepada kita fondasi kita itu sebetulnya apa. Ketika kita sadar ternyata selama ini sekociku itu sekoci yang terlalu kecil, Yesus mengatakan, “Mari datang kepadaku dan berpeganglah kepadaku karena Aku Adalah”. Aku adalah, I am berarti tidak pernah ada I was atau I will. Tidak pernah ada I was, berarti Dia itu sekarang ada sebagaimana adanya bukan karena ada yang lain. Juga bukan I will dalam pengertian Dia adalah Allah yang tidak berubah, tidak bisa dipengaruhi oleh apapun. Dia Allah yang sebagaimana adanya. Itulah yang menjadikan Dia sebagai batu karang yang kokoh, tidak ada yang menjadikan Dia dan tidak ada yang mengubah Dia. Di tengah-tengah lautan di mana kita tidak bisa menginjak satu dasar yang solid sekalipun, kita punya batu karang itu. Mungkin badai dalam hidupmu tidak akan segera berakhir. Mungkin badai dalam hidupmu tidak segera membaik, malah mungkin tambah berat. Tapi janganlah kita takut dan kita datang kepada Allah.
Yesus sebagai Allah yang lebih besar daripada badai, itu pertama. Yesus yang kita lihat dalam cerita ini juga bukan sekedar Yesus yang lebih besar daripada badai. Tetapi yang kedua, Yesus adalah Allah yang hadir dalam badai. Kita bayangkan para murid ketika mereka mendayung dengan susah payah, selama berjam-jam hanya segitu jauhnya. Sampai dikatakan jam 3 malam baru Yesus datang. Sebelum itu di mana Yesus? Seolah-olah Yesus tidak ada bersama dengan mereka, Yesus tidak tahu apa yang mereka alami. Kalau dari pengalaman sebelumnya mungkin mereka berpikir tidak apa-apa, badai sebesar apapun yang penting Yesus ada di kapal kita. Tapi dalam kisah ini, Yesus tidak bersama mereka di kapal. Seolah-olah Yesus absen dari hidup mereka. Tapi sebetulnya di mana Yesus? Ketika para murid diombang-ambingkan angin sakal selama berjam-jam, Yesus ada di atas bukit, berdoa bagi mereka, melihat mereka dan pada jam yang paling akhir Dia datang kepada mereka. Kadang dari sudut pandang kita, kita tidak melihat kehadiran Yesus. Kadang dalam mengalami berbagai musim angin ribut itu, kita berdoa, “Tuhan, di mana Engkau?” Kita merasa seperti Tuhan menyembunyikan wajahnya dari kita. Para penulis Alkitab pun kadang menuliskan pengalaman seperti itu. Kita bisa mengalami Yesus itu seolah-olah tidak hadir tapi satu hal yang kita boleh yakin, Yesus selalu mendoakan dan melihat hidup kita.
Dia adalah Allah yang I am itu, Allah yang lebih besar daripada segala tentara Mesir, lebih besar daripada badai kehidupan. Dia pencipta langit dan bumi tetapi Dia juga adalah Allah yang mengikat perjanjian dengan umatNya. Sekalipun bagi orang Israel Allah itu terlalu besar bagi mereka, terlalu mengerikan, api dan asap di atas Gunung Sinai bagi mereka. Tetapi yang sebetulnya sedang terjadi di atas Gunung Sinai itu, Allah yang adalah I am itu sedang memberikan 10 perintah kepada Musa, tanda perjanjian antara Dia dengan umatNya. Allah yang lebih besar dari segala sesuatu, yang tidak bisa dikendalikan oleh apapun, tidak bisa diubah, dipengaruhi apapun itu, Dia memilih untuk mengikat perjanjian dengan sekelompok orang yang begitu kecil dan hina, mengatakan, “Sekarang Aku menjadi Allah-mu dan engkau menjadi umatKu.” Dia menjadi Allah yang hadir bersama dengan mereka berjalan dalam tiang awan dan tiang api. Dia Allah yang hadir di tengah-tengah padang belantara. Ketika kita melihat Dia, Allah juga datang dalam Yesus Kristus. Kita mendapatkan satu jaminan yang jauh lebih besar daripada orang-orang di Perjanjian Lama. Dalam Ibrani dikatakan Dia Allah yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan berdoa syafaat bagi kita. Sekalipun sekarang kita tidak merasa Tuhan dekat dalam hidup ini, firman Tuhan mengatakan Dia mengetahui kehidupan kita. Dia mendoakan setiap dari kita, Dia peduli apa yang terjadi dalam hidup kita. Karena Dia adalah Allah, yang bukan saja melihat, mendoakan dari surga. Tetapi Dia juga Allah yang telah turun dan datang menemui kita. Dia Allah yang juga hadir dalam dunia ini, bahkan mengambil tubuh manusia seperti kita, dan mengalami badai yang sama seperti yang kita alami. Ketika Yesus menolong para muridNya, Dia tidak sekedar berdoa dari atas gunung dan melihat dan kemudian meredakan badai dari jarak jauh. Dikatakan Dia turun, Dia berjalan di tengah-tengah badai itu. Dia adalah Allah yang bukan sekedar menghilangkan badai kita dari jarak jauh. Dia Allah yang datang menjumpai kita dalam badai yang kita alami. Allah orang Kristen bukanlah Allah yang sekedar melihat dan mendoakan dari kejauhan. Dia datang ke dunia, masuk ke dalam dunia mengalami segala brokenness dari dunia ini. Dia tahu apa itu tubuh yang lemah, perut yang lapar. Dia tahu seberapa susahnya rasa hati ini ketika ditolak dan ketika Dia mengalami penderitaan. Karena sang Firman itu telah menjadi manusia. Maka sekalipun Allah itu bukan manusia, kita percaya Allah yang kita sembah adalah Allah yang mengerti apa yang kita alami.
Ketiga, Yesus dalam kisah ini bukan saja Allah yang berkuasa atas badai. Dia juga bukan sekedar Allah yang hadir dalam badai. Tapi Dia juga adalah Allah yang menghantar kita keluar dari badai. Ayat 21 dikatakan setelah Yesus naik ke atas perahu, seketika itu juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju. Ini bukan berarti bahwa kalau kita percaya Yesus maka semua badai akan langsung selesai, bukan seperti itu. Beberapa badai itu mungkin akan berlangsung selama beberapa tahun. Beberapa doamu mungkin tidak akan dijawab sesuai dengan keinginanmu. Beberapa penderitaan yang Anda alami mungkin tidak akan pernah hilang selama engkau masih hidup di dunia ini. Tetapi kita bisa pelajari, tidak peduli badai itu selesai atau tidak, Yesus adalah Allah yang akan menghantar kita sampai pada tujuan. Saya suka sekali di Injil Yohanes bukan dicatat setelah Yesus naik ke perahu maka badai itu berhenti. Tapi dicatat setelah Yesus naik perahu maka perahu itu sampai ke tempat yang mereka tuju. Jadi di sini fokusnya bukan apakah badai itu reda atau tidak, tapi apakah kita sampai tujuan atau tidak? Di sini kita melihat Yesus adalah Allah yang bisa menghantar kita keluar dari badai sampai kepada tujuan. Ini jauh lebih penting dari sekedar badai yang diredakan. Misalnya dalam hidup ini kita tidak pernah mengalami badai sekalipun, apa gunanya kalau kita tidak pernah sampai tujuan? Sebaliknya sekalipun badai begitu berat dan terjadi selama bertahun-tahun, bukankah yang penting kita akhirnya tiba sampai tujuan kita? Maka di sini yang menjadi keyakinan dan keberanian kita bukanlah apakah saya tahu tahun depan keadaan saya akan lebih baik. Yang jadi pengharapan kita, memang ini susah tapi mungkin tahun depan saya akan sudah lebih terbiasa. Karena kita bahkan tidak tahu apakah badai hidup kita akan berkurang atau tidak. Yang jadi pengharapan kita hanyalah bahwa kita melihat hidup kita itu sekarang milik Kristus dan ada di tangan Kristus.
Ketika hidup kita ada di tangan Kristus, maka sampai kepada tujuan itu bukan lagi menjadi tugas kita, itu jadi tugas Kristus. Tugas kita saat ini hanyalah untuk tetap setia mendayung perahu itu. Terus dayung sekalipun angin sakal membawa kita mundur, kita terus dayung mencoba untuk maju. Kita tetap melakukan apa yang harus kita lakukan. Kita tetap berusaha mengasihi sekalipun susah, berusaha mengampuni sekalipun kelihatannya tidak mungkin. Kita tetap bersabar sekalipun kekuatan kita sepertinya hampir habis, sembari tetap berharap dan berdoa pada Tuhan, menaruh kepercayaan kita kepada Dia yang mengendalikan perahu ini. Inilah yang penting dalam hidup kita, bukan apakah badai ini akan segera berlalu atau tidak, tetapi apakah kita mengarah kepada tujuan yang benar. Apa yang jadi tujuan hidup kita? Tujuan kita bukanlah hidup yang tanpa badai, bukanlah hidup yang sukses, nyaman, keluarga bahagia dan sempurna. Bukanlah sekedar kesehatan yang selalu terjaga, hidup tanpa penderitaan, uang yang selalu cukup. Yang menjadi tujuan yang lebih penting adalah bahwa kita menjadi orang-orang yang ada bersama Kristus untuk melihat kemuliaanNya, menikmati kehadiranNya. KemuliaanNya yang jauh lebih besar daripada segala badai hidup kita. KehadiranNya yang tetap bisa memberikan kita damai dan sukacita di tengah-tengah malam yang paling gelap sekalipun. Maka sebagai orang Kristen kita bisa mengatakan, “Saya tidak tahu berapa lama badai ini akan berlangsung. Saya tidak tahu bagaimana Tuhan akan menyelesaikan masalah ini. Saya tidak tahu besok itu seperti apa, tapi setidaknya saya tahu saya ada dalam perahu siapa. Saya tahu ke mana Dia akan membawa saya pergi.”
Bagi saudara yang bergumul di tengah-tengah badai, lihatlah kepada Allah yang lebih besar daripada semuanya ini. Belajarlah untuk mencari, merasakan, dan menikmati hadiratNya di tengah-tengah badai, dan terus pegang kepada Kristus sampai Dia membawa kita kepada tempat tujuan yang Dia inginkan. Ketika kita menyadari ini semua, maka ketika kita berhadapan dengan Yesus, kita tidak sekedar mengatakan, “Terima kasih Yesus sudah menolong saya.” Tapi seperti dicatat dalam Injil Matius, para murid setelah mereka sampai tujuan, mereka langsung sujud menyembah kepada Yesus. Menyadari Yesus, Engkau layak untuk disembah. Engkau bukanlah sekedar problem solver kami, Engkau adalah Allah pencipta langit dan bumi, tapi lebih indah lagi, Engkau Allah yang bukan saja berdaulat atas badai, Engkau Allah yang masuk ke dalam badai. Engkau mengalami badai yang jauh lebih mengerikan dari apa yang pernah kami rasakan. Badai para murid adalah angin dan ombak. Badai dalam hidup saudara mungkin masalah-masalah dalam keluarga, dalam hidup, dalam relasi dan segala macam. Tetapi badai yang Yesus alami, adalah ketika Dia harus naik ke atas kayu salib dan menghadapi langit yang menjadi gelap, yang menggambarkan murka penghakiman Allah atas dosa. Itulah yang Dia lakukan bagi umatNya, sehingga ketika Dia mengatakan “Aku adalah, jangan takut”. Itu bukan kalimat penghiburan yang murahan. Itu adalah kalimat penghiburan yang muncul dari Injil yang dibayar dengan harga yang mahal. Dia yang harusnya dan nanti akan menghakimi kita, Dia juga menjadi yang menyelamatkan kita. Maka mari kita sembah Dia, Yesus yang berkuasa atas segala sesuatu. Yesus yang hadir dalam setiap kegelapan malam kita. Dan Yesus yang pasti akan membawa kita pulang ke rumah tanpa kehilangan satu jiwa pun. Mari kita bersatu dalam doa.