Download versi cetak: 1451_KebaktianSore_23Aug2026_ST

Panggilan Tuhan pada Elia – 1

Pdt. Dr. Stephen Tong

1 Raja-raja 17:1-6

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Nabi Elia adalah satu nabi di antara sekian ratusan nabi di seluruh kitab suci. Berlainan dengan nabi-nabi yang lain selama ratusan bahkan ribuan tahun, tidak ada yang mengetahui siapa ayah dan ibu dari nabi Elia. Tidak ada orang mengetahui di mana pendidikannya. Seorang hamba Tuhan yang unik, tidak ada bandingnya sepanjang sejarah. Alkitab hanya mencatat satu kalimat, Elia adalah orang dari Tisbe, kota yang sangat tidak terkenal dan kita sulit mengetahui kota itu di mana. Namun kitab suci mencatat bahwa dia adalah nabi yang paling penting di dalam sejarah. Ini berarti Tuhan tidak menghina kota yang kecil. Tuhan tidak menghina manusia yang lahir tanpa latar belakang yang penting. Mungkin engkau juga dilahirkan di kota yang kecil sekali dan tidak terkenal, tapi siapa tahu ketaatanmu dan kesungguhanmu menjalankan kehendak-Nya menjadikan engkau orang yang dipakai luar biasa oleh Tuhan, bahkan melampaui semua orang sebelumnya. Kita semua mendengar Abraham, Musa, Daud dan banyak orang yang namanya besar sekali. Tapi apakah Elia lebih kecil dari mereka? Apakah Elia kurang penting dibandingkan mereka? Sama sekali tidak.

Alkitab mengatakan hanya satu orang nabi yang tidak usah mati, dia langsung diangkat ke surga, tidak perlu melewati kematian. Sebelumnya Alkitab mencatat Henokh yang berjalan dengan Tuhan, dia diangkat ke surga. Di dalam seluruh kitab suci tidak dicatat apa yang pernah dinubuatkan oleh Henokh. Hanya di dalam kitab Apokrifa (bukan di kitab suci) dicatat dia mengatakan Yesus akan datang kembali ke dalam dunia. Lain dengan Henokh, Elia membicarakan nubuat yang sangat jelas, dan semua dijadikan fakta sejarah. Elia buka mulut mengatakan nubuat yang ajaib sekali. Dia berkata, “Aku bersumpah demi Allah Yehova, Allah Israel yang hidup. Jikalau aku tidak berdoa berapa tahun ini, tidak ada embun yang berada di daun-daun di muka bumi. Tidak ada air hujan yang turun dari langit untuk tanah Israel. Dia

hanya mengatakan satu kalimat dan dia tidak bicara lagi, lalu dia pergi entah ke mana. Seolah-olah dia tidak muncul lagi, Namun semenjak dia mengatakan kalimat itu, selama tiga tahun tidak setetespun hujan yang turun dan tidak ada sebutir air di antara rumput-rumput dan tumbuhan. Apa artinya? Bukan nabi Elia mengkonfirmasikan kalimat yang pernah dikatakan oleh Tuhan, tetapi terbalik, Tuhan mengkonfirmasikan kalimat yang dikatakan oleh Elia. Biasanya nabi-nabi bersaksi, waktu Tuhan bicara pasti terjadi. Tetapi kali ini terbalik, Tuhan bersaksi kata-kata Elia pasti terjadi. Bukankah ini satu hal yang sangat unik? Sangat istimewa di dalam sejarah. Tuhan mengkonfirmasikan kalimat seorang manusia, betapa pentingnya orang ini.

Karena tidak ada hujan turun dari langit, maka terjadi kelaparan besar-besaran. Banyak orang kurang makan, lapar sampai mati. Kalimat Elia menentukan mati hidupnya puluhan ribu orang. Orang seperti ini pasti dibenci oleh rakyat dan ditolak seluruh bangsa. Firman Tuhan yang keluar melalui seorang yang setia kepada-Nya, tidak pernah menjadi sia-sia. Jikalau engkau memperhatikan oratorio Elijah yang ditulis oleh Felix Mendelssohn Bartholdy, ada kalimat muncul seperti ini, setelah bertahun-tahun tidak ada hujan, maka tanah kering semua. Seluruh muka bumi retak-retak seperti kulit daripada kura-kura. Tak ada yang tumbuh, tak ada makanan, tak ada tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan apa yang bisa diterima oleh manusia. Apakah akibatnya? Semua orang lapar dan banyak yang mati. Anak-anak kecil Israel mengulurkan tangan, minta-minta makanan di tengah jalan-jalan di kota Yerusalem. Kalau satu hari terjadi suasana seperti ini di Singapura, engkau menghadapi anak-anak yang tidak sekolah, semua di pinggir jalan minta makanan, minta minuman, barulah engkau tahu apa yang dicatat di sini.

Apakah mereka mau mencari Elia, lalu mematikan dia karena dia membawa kecelakaan kepada seluruh bangsa? Ini mungkin sekali. Itu sebab Tuhan menyimpan Elia di pinggir sungai Kerit. Di situ Ia berkata, “Tinggal di sini, sembunyikan dirimu. Aku akan kirim gagak membawa makanan kepada engkau setiap hari.”  Menjadi hamba Tuhan tidak mudah. Kalau dia setia kepada Tuhan, mungkin dia akan miskin dan tidak ada makanan. Kalau dia tidak bicara sesuai dengan kehendak Tuhan, mungkin dia dihukum mati oleh Tuhan sendiri. Elia setia kepada Tuhan.

Alkitab tidak pernah mencatat Elia mempunyai saudara ataupun keluarga yang mendukung dia. Dia sendiri hidup sebatang kara, setiap hari hanya berharap kepada Tuhan saja. Orang seperti ini bagaimana menyambung hidupnya hari demi hari? Setiap hari, pagi sore, ada burung yang membawa daging datang di depan dia supaya boleh ada makanan untuk dia. Dan dia minum dari mana? Dari sungai Kerit, yang makin lama makin rendah karena tidak ada hujan lagi. Jikalau tanah negeri lain masih ada air mengalir ke Israel, barulah dia mempunyai air untuk minum. Mendadak satu hari, Tuhan bicara kepada Elia, “Sekarang engkau jalan. Pergi ke utara. Cari seorang janda yang suaminya sudah mati. Engkau akan tinggal di rumahnya, dan Aku akan memelihara engkau.” Dari Israel pergi ke Sidon paling sedikit dua hari satu malam jalan kaki. Tetapi ini perintah Tuhan. Elia langsung taat. Dia berjalan kaki kira-kira dua hari satu malam, sampai di kota orang kafir, nama kotanya Sidon.

Waktu bertemu dengan janda tersebut, dia tahu Tuhan pimpin dia sampai ke tempat itu. Dia berkata, “Tolong kasih saya makanan. Bikinlah roti untuk saya.” Perempuan itu mengatakan, “Dengan sesungguh-sungguhnya, aku berkata kepadamu, aku sedang mengambil beberapa kayu kering untuk dibakar, mau masak satu roti, karena sisa tepung yang saya miliki hanya cukup bikin satu roti untuk anakku. Dan setelah itu kami akan mati. Inilah kepunyaan kami yang terakhir.” Tetapi jawab Elia sangat aneh, “Bikinlah roti, kasih saya dulu.” Bukankah ini kejam sekali? Mengapa Tuhan kirim dia untuk cari makan kepada seorang janda yang miskin? Tepung yang sisa dan minyak yang masih ada, hanya cukup untuk satu roti untuk menjadi makanan terakhir dari janda dan anak itu. Apakah perempuan itu taat? Kalau dia taat, berarti dia harus lapar dan mati bersama anak-anaknya. Kalau dia tidak taat, mungkin Tuhan lebih cepat bikin dia mati. Apakah Tuhan terlalu kejam? Tuhan tidak kirim Elia pergi ke orang kaya yang ada gudang makanan, tetapi Dia mengirim Elia ke seorang janda yang suaminya sudah mati, sisa makanan terakhir untuk dia dan anaknya. Saya tidak mengerti, cara Tuhan begitu beda dengan common sense kita.

Kita melihat bahwa janda ini taat. Mungkin dia tahu Elia adalah seorang nabi. Mungkin dia seorang yang takut kepada Tuhan, maka dia tidak berdebat, tidak menolak. Dengan iman dia masuk ke dapur, mengolah minyak dan tepung menjadi roti, lalu membawa roti itu pada Elia. Elia langsung makan. Namun setelah janda itu masuk ke dapur, dia terkejut, karena tepung dan minyaknya masih ada. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Baru dia membikin roti kedua untuk dia dan untuk anaknya. Apakah yang kita belajar dari pelajaran yang penting ini? Carilah kehendak Tuhan. Carilah kerajaan Tuhan. Carilah kebenaran Tuhan terlebih dahulu. Sesudah itu segala yang kau butuhkan akan Tuhan siapkan untuk kamu. Hari itu seharusnya menjadi hari terakhir janda itu. Hari  mereka siap-siap kelaparan dan mati. Tetapi karena takut pada Tuhan, mengutamakan kerajaan dan kebenaran Tuhan — itulah sebabnya hari itu bukan saja dia tidak mati, hari itu menjadi hari pertama dia melihat setiap hari makanan diberikan oleh Tuhan. Sejak dari Perjanjian Lama semua ajaran konsisten. Tuhan tidak pernah melupakan orang yang mencintai Dia. Tuhan tidak pernah tidak memberkati orang yang mengutamakan Dia.

Saya melayani Tuhan hampir 70 tahun, tidak pernah lihat ada orang yang memberikan persembahan perpuluhan mati kelaparan. Saya tak pernah melihat orang yang mengembalikan kepunyaan Tuhan kepada Tuhan, dia sendiri ditinggalkan oleh Tuhan. Di dalam hidup saya sendiri, saya mengalami hal yang sama. Pada waktu tahun 1987, saya bicara sama istri saya, “Saya berhenti mengajar di SAAT. Saya mulai hari ini tidak ambil gaji. Lalu kita semua pindah ke Jakarta.” Dari Malang ke Jakarta, 800 km. Saya bawa mobil sendiri, dengan mertua, istri dan anak-anak saya. Bawa mobil yang sudah tua, 16 tahun menempuh perjalanan 23 jam baru sampai di Jakarta. Ada kawan yang cinta Tuhan memberikan kamarnya untuk kami tinggal selama 2 bulan. Saya berkata, “Saya pindah ke Jakarta karena pimpinan Tuhan. Saya memulai Gereja Reformed Injili Indonesia.” Dia bertanya, “Gerejamu ada uang tidak?” Saya jawab, “Tidak ada.” “Gerejamu ada majelis tidak?” Saya jawab lagi, “Belum ada.” “Lalu siapa yang memperdulikan kebutuhan keluargamu, istri, empat anak, satu mertua dan 2 pembantu?” “Saya tidak tahu. Saya hanya tahu Tuhan pimpin saya meninggalkan Malang sampai di Jakarta.” Saya mulai berbicara, saya akan dirikan Gereja Reformed Injili Indonesia, GRII. Saya tanya “Siapa mau berdoa bersama dengan saya?” Kita pakai satu malam sampai pagi kita berdoa, baru mulai gereja GRII. Waktu itu ada 55 orang dengar saya. Berlutut di gereja, kita sama-sama berdoa. Minta Tuhan pimpin gereja baru yang akan didirikan. Dengan air mata saya berkata kepada Tuhan. “Tuhan mengetahui Indonesia perlu gereja yang doktrinnya benar. Tuhan mengetahui Indonesia perlu gereja yang suka mengabarkan Injil.” Indonesia banyak gereja karismatik yang doktrinnya kacau-balau dan gereja yang doktrinnya liberal, tidak percaya lagi kepada Injil. Kami menangis. Kami berdoa berjam-jam dengan mencucurkan air mata, minta Tuhan kasihani Indonesia. Minta Tuhan berkati gereja yang mau kami dirikan.

Hari kedua, kami mulai pakai tempat pinjaman. Lalu siapa mau datang berbakti, silakan datang mendengarkan khotbah saya. Yang datang kebaktian pertama, 328 orang. Sebenarnya itu angka buat saya kecil sekali. Saya biasanya sudah pimpin KKR di Jakarta yang datang ribuan orang. Tetapi waktu saya mengatakan, ini pertama kali Gereja Reformed Injili Indonesia didirikan, pertama kali kita berbakti menyembah Tuhan, hari Minggu yang datang cuma 328 orang. Waktu itu kita sewa gedung Granada, sekarang masih ada. Tiga puluh tujuh tahun yang lalu, satu kali sewa adalah Rp550.000, Sekarang Rp 550.000 sangat sedikit, tetapi waktu itu sangat besar. Maka saya berkata kepada Tuhan, “Kalau setiap minggu kebaktian di sini tak ada uang bayar, saya akan jual mobil untuk bayar utang kepada gedung itu.” Hari pertama, 328 orang, persembahannya tidak sampai Rp200.000. Minggu depan, kebaktian kedua yang datang yang datang 280, persembahannya tetap tidak sampai Rp200.000. Maka saya pakai uang yang saya tabung, bayar terus. Saya menjadi pendeta yang tidak terima bayaran, dan menjadi pendeta yang keluar uang untuk bayar sewa ruangan kebaktian. Ada orang Kristen melihat keadaan begitu sulit, dia mengatakan, “Stephen Tong, kamu mau meneruskan gereja yang tombok tidak habis-habis, dan tidak ada income yang cukup. Bukankah ini sangat bahaya?” Saya mungkin tidak bisa lagi subsidi. Saya mungkin tidak lagi bisa menyambung hidup keluarga saya. Tapi saya menjawab, “Mendirikan Gereja Reformed Injili Indonesia adalah kehendak Allah yang saya tidak boleh tolak. Saya akan meneruskan gereja ini. Saya akan minta Tuhan. Saya akan membuktikan, yang memerintahkan saya dirikan gereja adalah yang mencukupkan gerejaNya. Dan akhirnya cukup uangnya.” Lalu saya mulai membentuk pengurus, mereka yang atur uang, saya tidak pernah campur uang. Saya memberikan peraturan, istri dan anak-anak Stephen Tong tidak boleh campur uang gereja. Keluarga Stephen Tong tidak boleh masuk kamar menghitung uang persembahan. Seluruh keluarga harus jujur, harus tidak campur uang, harus berdoa, hanya bersandar kepada Tuhan. Kalau uang tidak cukup, yang ada adalah saya menombok dan saya tidak terima gaji. Pengurus-pengurus menjadi gelisah. Bagaimana kita punya pendeta kerja setengah mati, tidak ada uang honor? Mereka datang ke saya, “Bagaimana mungkin, engkau punya istri, anakmu perlu makan. Engkau tidak terima gaji sampai kapan?” Saya menjawab, “Saya akan melayani dua tahun tidak terima honor. Kalau dua tahun selesai, uang gereja sudah cukup, barulah kasih saya honor. Menurut pengurus yang tentukan, bukan saya yang pasang tarif.” Mereka mau bicara, tapi saya berkata, “Tidak usah diskusi. Inilah janji saya pada Tuhan. Tidak ada orang boleh campur.”

Seminggu demi seminggu, kita lewat 104 minggu. Apakah Stephen Tong menerima undangan gereja lain yang biasanya mungkin kasih uang saya banyak? Saya jawab mereka, “Tidak, saya sudah ada gereja sendiri, saya tidak lagi khotbah di gereja-gereja yang lain.” “Kalau tidak khotbah di gereja lain, engkau tidak ada pemasukan, bagaimana bisa hidup?” Saya berkata, “Itu bukan urusanmu. Itu urusan Tuhan. Mari kita setia ada Dia.”  Saya bersyukur pada Tuhan, 104 hari Minggu lewat. GRII belum tutup, pengunjung makin banyak. Pertama kali, 328. Kedua kali, menurun menjadi 280. Ketiga kali mulai naik lagi, langsung naik, naik naik terus. Dua tahun kemudian, yang ikut kebaktian 600 orang. Bagi saya tetap sedikit, karena saya kalau diundang ke gereja lain mereka bisa siapkan 1000, 2000 orang lain dengar khotbah saya. Saya tidak peduli, karena banyak gereja mempunyai doktrin yang tidak beres, pelayanannya sangat berkompromi. Saya jawab, “Tidak. GRII akan menjalankan perintah Tuhan, akan mengikuti prinsip Alkitab, akan setia kepada Injil Yesus Kristus.”  Setelah dua tahun, seorang dari bendahara mengatakan, “Uang gereja sudah cukup bayar semua pengeluaran, masih ada sisa uang, boleh memberikan honor kepada pendeta.” Tuhan yang hidup, Tuhan yang mencukupi semua, adalah Tuhan yang setia, tidak berubah dari zaman Elia sampai sekarang.

Elia tidak pergi. Dia tetap tinggal di rumah janda perempuan yang suaminya mati itu. Dia tinggal di situ sampai hujan turun ke tanah Israel. Tiga tahun Elia tidak doa, Tuhan tidak turunkan hujan. Tiga tahun Elia tidak minta. Tiga tahun Tuhan berhentikan hujan. Sampai tahun ketiga, Elia berkata, “Sekarang waktunya, saya minta Tuhan turunkan hujan.” Sesudah hari itu, Elia tidak lagi tinggal di rumah orang janda itu. Sesudah selesai peristiwa ini, sampai kitab Wahyu, tidak pernah terjadi hal yang seperti apa yang dialami oleh Elia.

Kita harus bangga dan bersyukur karena Tuhan mengerjakan hal yang sama di GRII seperti zaman Elia. Kita lain dengan banyak gereja yang tamak uang, yang menafsirkan Kitab Suci tidak bertanggung jawab. Kita jalankan pimpinan Tuhan, taat prinsip Alkitab. Kita setia kepada injil dari hari pertama sampai sekarang, sudah 37 tahun. Dari satu orang, Stephen Tong, dari satu gereja di pusat, perkembangan GRII sudah menjadi hampir 100 gereja. Dari satu pendeta, kita sekarang sudah mempunyai lebih 150 hamba Tuhan. Selama 37 tahun ini, kita tidak pernah pergi ke rumah orang kaya, minta sokongan uang  dari mereka untuk bikin GRII hidup. Saya jujur dan setia kepada Tuhan, saya tidak membohongi anggota GRII. Bahkan waktu kita membangun gereja yang besar seperti Kemayoran, kita tidak adakan fundraising. Gereja terbesar di New York yang saya pernah khotbah di dalam lebih dari 15 kali. Tingginya lebih 24 susun. Tidak kalah sama gereja di Kemayoran. Tapi gereja itu uangnya dari satu orang, yaitu John Rockefeller. Riverside Church dibangun sampai 24 susun. Berbeda dengan GRII yang tidak pernah fundraising dan tidak pernah minta subsidi pemerintah. Kita tidak pernah dikirim satu dolar dari Amerika. Semua uang yang dibutuhkan untuk gereja pusat di Kemayoran adalah melalui doa. Kita minta Tuhan menyatakan kesetiaanNya. Dan kecukupan dari Tuhan membuktikan iman kita bukan ditujukan kepada Allah yang bohong, Allah yang janji kosong, atau Allah yang tidak menolong. Gereja Reformed Injili, dari 1989 sampai sekarang sudah 37 tahun. Gereja itu tetap berada. Bangunan teologi masih di situ. Bangunan concert hall masih di situ. Bangunan educational building masih di situ. Bukan saja kita tidak pernah kekurangan. Kita masih mempunyai uang sisa untuk membantu gereja-gereja di kota-kota kecil supaya mereka juga bisa bangun gereja. Bersyukur kepada Tuhan. Allah yang sejati adalah Allah yang hidup. Allah yang hidup adalah Allah yang mendengar doa. Allah yang mendengar doa adalah Allah yang memberikan kita mencukupi apa yang kita butuhkan. Sepanjang 37 tahun ini, sudah 25 gereja saya desain, satu-persatu dibangun. Sekarang hampir semua selesai. Semua yang saya desain, saya tidak terima uang.  Semua sudah didesain, sebagian sudah selesai dan sebagian sedang dibangun. Saya bersyukur kepada Tuhan. Bukan hanya gedung gereja, tapi SKC sudah jadi dan peletakan batu pertama untuk membangun CIT sudah dilangsungkan. Tetap saya tidak terima bayaran dan Tuhan begitu memberkati. Hari ini saya khotbah sampai di sini. Saudara jangan lupa, Elia hamba Tuhan, Elia juga manusia. Elia kalau tidak makan bisa lapar. Elia kalau tidak ada uang juga bisa mati. Tapi Alkitab mencatat, Tuhan cukupi dia, di pinggir sungai Kerit, Tuhan kirim gagak yang membawa makanan kepada dia. Setelah air sungai Kerit itu kering, Tuhan berkata, “Pergilah ke Sidon, cari seorang janda, menginap di rumahnya. Saya akan membikin dia menghidupkan engkau.”  Dia tinggal di sana sampai hujan turun ke tanah Israel. Ketika hujan turun ke tanah Israel, kesulitan-kesulitan akan lewat, hari-hari kekurangan pasti berhenti. Janji Tuhan tidak pernah menjadi kosong. Anak-anak muda yang menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan, hari ini engkau sendiri mendengar kesaksian saya yang sudah melayani hampir 70 tahun. Banyak orang yang mau masuk sekolah teologi, tidak berani masuk, ketakutan kalau uang kurang. Saya harap hari ini engkau belajar iman, belajar bersandar kepada Tuhan. Belajar dan percaya Tuhan adalah Allah yang sejati. Allah yang sejati adalah Allah yang hidup. Allah yang hidup adalah Allah yang mendengar doa kita, dan Dia akan memberikan kecukupan kepada kita.

Close
Close Search Window