Download versi cetak: 1449_KebaktianSore_2026_9Aug_AJ_ST

Doa Bapa Kami – Kerajaan Allah

Matius 6:9-13

Pdt. Adrian Jonatan M.Th

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Kita mungkin sudah sangat terbiasa mendengar doa Bapa Kami, sehingga mungkin kita lupa untuk melihat betapa dalam dan tingginya makna dari kalimat-kalimat dalam doa Bapa Kami. Doa ini dimulai dengan panggilan yang sangat menggetarkan hati kita, “Bapa kami yang di Surga”. Ini seharusnya membuat kita sangat terharu, karena kita sebenarnya tidak layak memanggil Tuhan sebagai Bapa, kita bukan anak Allah secara natural. Kita adalah ciptaan Allah. Sama seperti kalau kita menciptakan AI, kita tidak akan expect AI berhak memanggil kita sebagai ayah. Kita boleh memanggil Allah sebagai Bapa, karena Tuhan yang mengangkat kita sebagai anak. Dia mengadopsi kita menjadi anakNya. Tetapi adopsi itu dibayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu suatu pengorbanan AnakNya yang tunggal. Anak yang bisa memanggil Allah sebagai Bapa dengan bebas, justru mati di atas kayu salib. Tuhan Yesus di atas salib berkata, “Eli, Eli, lama sabakhtani.” Yesus bukan sedang bingung mengapa Allah meninggalkan Dia. Kitalah yang seharusnya mengatakan, “Allahku, aku tidak layak memanggil Engkau.” Tetapi yang terjadi adalah justru kita berhak memanggil Allah sebagai Bapa karena ada pergantian tempat. Yesus menggantikan tempat kita untuk berada di sana, dan kita mengambil tempat Yesus untuk boleh memanggil Allah sebagai Bapa. Setiap kali kita berdoa “Bapa kami yang di Surga”, mari kita ingat betapa berharganya hak untuk memanggil Allah sebagai Bapa.

Fokus dari tiga permintaan pertama bukan kita, tetapi Tuhan. Nama Tuhan, kerajaan Tuhan, kehendak Tuhan. Sangat berbeda dengan doa kita. Sering kali waktu kita berdoa, kita memanggil Allah sebagai Bapa, tapi kemudian kita berdoa seperti anak yang manja dan merasa layak untuk meminta kepada Bapa. Lalu kita mulai kesal jika tidak mendapatkannya. Di sini kita kembali diingatkan bagaimana kita seharusnya berdoa. Hal pertama yang perlu kita lakukan waktu kita datang kepada Tuhan, yaitu menguduskan dan meninggikan nama Tuhan di dalam hati kita. Karena itu adalah kesadaran kita akan betapa berharganya Tuhan di dalam hati kita. Secara objektif Tuhan adalah Tuhan yang tinggi di sana, Pencipta langit dan bumi. Dia menopang segala sesuatu dan Dia bertakhta. Saya tidak bisa bayangkan betapa tingginya layer sampai ke atas sana. Kalau saudara bekerja dalam satu perusahaan, saudara punya atasan, antara atasan kita sampai pemimpin perusahaan tertinggi, masih ada beberapa orang. Jika suatu hari saudara mendapat kesempatan bertemu dan bisa berkata-kata dengannya, itu adalah satu privilege yang besar. Apalagi kalau kita bicara mengenai Tuhan, berapa banyak layer kekuasaan yang ada di dalam dunia ciptaan. Tuhan ada di tempat yang paling tinggi. Sehingga waktu kita berdoa, kita harus menempatkan Tuhan di tempat yang tepat. “Dikuduskanlah nama-Mu”, itu berarti kita menempatkan Tuhan di dalam tempat yang khusus.

Mazmur 8:2, “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.” Mazmur 9:2, “Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib.” Pemazmur melihat bagaimana waktu dia berdoa, hal pertama yang dia lakukan adalah meninggikan nama Tuhan. Karena dengan menempatkan Tuhan di dalam tempat yang tepat, baru ada suatu positioning dan relasi yang benar. Kalau tidak, waktu kita berdoa, tanpa sadar kita memanggil Tuhan sebagai Allah, tetapi kita menempatkan diri kita sebagai Tuhan. Kadang kita menilai Tuhan dan berkata, “Seharusnya Engkau begini.” Kita merasa bahwa diri kita lebih baik, keputusan kita lebih baik daripada keputusan Tuhan. Positioning di dalam doa itu sangat penting. Waktu kita memuliakan dan meninggikan nama Tuhan, kita berusaha menempatkan Tuhan pada tempat yang khusus. Kita perlu membiasakan diri untuk menyadari betapa besar dan mulianya Tuhan.

Tantangan kita dalam dunia ini adalah kita dibombardir untuk menghina dan menggunakan nama Tuhan dengan sembarangan. Ini melanggar perintah ketiga dari 10 hukum Taurat: jangan menggunakan nama Tuhan dengan sembarangan. Tuhan tahu hal ini penting. Sebab kalau kita menggunakan nama Tuhan dengan sembarangan, waktu kita harus menggunakan nama itu dengan benar, kita sulit menggunakannya. Dalam dunia ini nama yang dipakai dengan begitu enteng dan mudah justru adalah nama yang seharusnya dipakai dengan begitu khusyuk dan tinggi. Marilah kita menjaga hati kita, karena ini akan berpengaruh dengan kerohanian kita, berpengaruh dengan bagaimana kita berelasi dengan Tuhan.

Waktu kita berpikir dan berbicara mengenai “dikuduskanlah nama Tuhan”, kita menyadari bahwa Allah itu adalah Allah yang mulia dan kudus. Kemuliaan itu terkait dengan kekudusan, suatu ide yang mungkin jarang kita lihat di dalam dunia ini. Pendeta Stephen Tong di dalam pembahasan ini juga pernah membahas, beliau mengatakan bahwa sepanjang sejarah, dari zaman dahulu orang itu sudah menyembah ilah dan dewa-dewi, entah kapan mulainya. Karena memang naluri manusia yang paling dalam itu adalah menyembah. Akan tetapi dewa-dewi, ilah-ilah yang mereka sembah itu, hidupnya tidak kudus. Mereka menjadi mulia atau besar dan hebat bukan karena kekudusan mereka. Kehidupan moral mereka sama persis dengan manusia. Mereka punya desire dan melampiaskan desire mereka. Mereka simply lebih kuat dan lebih hebat dari manusia, sehingga yang terjadi sebenarnya adalah menjadi suatu ekstrapolasi dari manusia. Ini bukannya dewa-dewi atau ilah yang sesungguhnya, tetapi bayangan manusia kalau jadi dewa itu seperti apa. Kehebatan mereka simply adalah mereka lebih berkuasa dan lebih gagah perkasa. Ini bukan Allah, tetapi imago homini—image of man. Allah menciptakan manusia sebagai imago Dei (image of God), tetapi manusia sebagai image of God menciptakan image of man lalu kemudian mengatakan dia itu Allah. Sekarang kita mungkin tidak melihat dewa-dewi ini lagi, tapi pindah kepada superhero-superhero. Kehebatan mereka datang dari mana? Kekuatan dan kekuasaan mereka. Itulah yang menjadi kemuliaan dunia.

Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan yang suci dan kudus. Waktu malaikat itu menyambut dan memuliakan Tuhan, yang mereka katakan untuk menyatakan inilah kemuliaan Allah, “Kudus, kudus, kudus!” Jadi konsep kemuliaan sangat berkait dengan kekudusan. Ini berbeda dengan cara pandang dunia. Kemuliaan yang dipandang dunia adalah yang besar, megah dan yang kuat. Tapi menarik, waktu malaikat itu memuji Tuhan dengan gemetar dan gentar, mereka tidak mengatakan hebat, hebat, hebat. Atau mereka tidak mengatakan megah, megah, megah, mereka mengatakan suci, suci, suci, karena kemuliaan Tuhan itu nyata di dalam kekudusanNya. Saya pikir ini suatu konsep yang menarik. Konsep bahwa kemuliaan itu berkait dengan kekudusan. Jika dunia menilai kemuliaan berdasar kemewahan, sisi perspektif surgawi, adalah mereka yang kudus. Tuhan kita adalah Tuhan yang mulia karena Dia adalah Tuhan yang kudus, sehingga kita yang memanggil Dia sebagai Bapa, kita juga mau berusaha untuk hidup kudus. Waktu kita berkata, “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu”, berarti kita sebagai anak mau berusaha hidup kudus.

Khususnya dunia entertainment ingin memutarbalikkan hal ini. Kita dibombardir dengan ide kebesaran atau kehebatan yang tidak ada hubungannya dengan kekudusan. Apalagi kalau nonton film-film Hollywood, kita melihat orang yang menjaga kesucian, kekudusan, malah dihina. Orang yang virgin ditertawakan dan dianggap tidak laku. Dunia melakukan ini karena mereka sedang berusaha memprogram ulang pandangan kita tentang apa yang namanya mulia. Sebagai orang-orang yang belajar Alkitab kita kembali diingatkan untuk boleh mengejar kemuliaan yang sesungguhnya, kemuliaan yang ada di dalam hidup yang kudus. Inilah yang menjadi gambaran yang tepat untuk menjadi dorongan kita untuk hidup kudus. Sering kali kita hidup kudus itu karena menghindari pandangan yang negatif. Maksudnya apa? Takut dihukum. “Kalau kamu hidup kurang kudus, nanti dihukum Tuhan,” atau takut dihina orang. Tentu saja mungkin ada tempatnya untuk kita takut sehingga kita boleh hidup kudus, tetapi itu hanya sisi negatifnya. Justru di sini saya pikir sisi positif yang penting untuk mendorong kita untuk hidup kudus, karena kekudusan itu menandakan kemuliaan dan gambaran adopsi kita sebagai anak yang boleh memanggil Allah sebagai Bapa. Karena saya yang sudah diangkat anak oleh Allah, sebagai anak adopsi yang baik, kita tidak otomatis jadi anak yang kudus. Seperti anak adopsi, mungkin sebelum diadopsi dia suka main di tempat kotor. Tetapi kemudian waktu dia sudah diadopsi, dia tidak lagi melihat hal-hal yang lama. Dia melihat kepada Bapanya yang baru, dia ingin menjadi seperti Bapanya, dia mulai meniru Bapa- di surga yang kudus. Inilah konsep adopsi kita. Secara status kita sudah menjadi anak angkat, tetapi secara karakter kita perlu proses. Proses di mana kita perlu menyangkal kebiasaan lama. Itu tanggung jawab kita.

Kita melihat bahwa setiap kalimat ini sebetulnya boleh diakhiri dengan kalimat “di bumi seperti di Surga.” Karena tiga hal ini adalah tiga realita yang sudah terjadi di Surga. Nama Allah itu sudah kudus di Surga, cuma masalahnya di bumi ini nama Allah tidak dikuduskan. Kerajaan Allah sudah berdiri di Surga, cuma di dunia ini Kerajaan Allah masih ditolak dan diserang. Topik mengenai Kerajaan Allah ini adalah topik yang sangat kompleks dan perlu kita renungkan dengan sungguh-sungguh. Ini sangat berkait sebenarnya dengan keselamatan kita. Orang yang paling jelas mengenai pentingnya topik ini adalah Yesus sendiri. Yesus adalah orang yang paling banyak mengajar mengenai Kerajaan Allah. Saya masih ingat betul dulu waktu saya masih pemuda dengar Pak Tong tanya, “Apa inti pengajaran Yesus?” Beliau menjawab, kerajaan Allah. Itu adalah topik yang terus Yesus ajarkan. Topik yang penting sekali untuk boleh kita mengerti. Yesus sendiri juga mengatakan, orang yang selamat itu adalah orang yang melihat kerajaan Allah, orang yang menyadari pentingnya dan fokus yang begitu tinggi dari kerajaan Allah, itulah tanda orang yang diselamatkan.

Tapi kalau kita mau bertanya, jadi apakah kerajaan Allah itu? Waktu kita kembali membaca Alkitab, ternyata tidak bisa menemukan definisi yang precise tentang apa itu kerajaan Allah. Yesus sendiri tidak pernah menggambarkannya secara precise. Setiap kali Yesus bicara mengenai kerajaan Allah, Yesus berkata, “Kerajaan Allah itu, seperti biji sesawi. Kerajaan Allah itu, seperti ragi. Kerajaan Allah itu, seperti harta yang terpendam. Dst” Yesus sendiri tidak pernah menggambarkan definisinya dengan begitu jelas. Mungkin orang-orang di sekitar Yesus sudah mulai upset, begitu bicara Kerajaan Allah langsung mereka mendengarkan. Saudara bisa melihat bagaimana keluar pertanyaan yang mungkin datang dari pertanyaan kita juga, di mana? Seperti apa? Berapa besar? Kapan datangnya? Itu juga adalah yang ditanya oleh orang-orang pada zaman itu. Tapi Yesus justru mengatakan, “Jangan percaya dan jangan dengar orang yang mengatakan kerajaan Allah itu di sini atau kerajaan Allah itu di sana.” Manusia ingin sesuatu yang precise, tetapi ini memang sesuatu hal yang sangat misterius. Yesus tidak memakai kata-kata atau hal-hal yang precise untuk mengasosiasikan Kerajaan Allah, karena kerajaan Allah ini memang tidak bisa diasosiasikan dengan apapun yang lahiriah di dalam dunia ini. Karena itulah Yesus juga berkata, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini.”

Di dalam sejarah gereja abad ke-18 dan ke-19, ada orang-orang yang berpikir bahwa kerajaan Allah itu seiring dengan kemajuan kebudayaan kita, inilah kerajaan Allah. Orang di Eropa dan di Amerika pada zaman itu merasa bahwa inilah kerajaan Allah, kita sedang menuju kepada kerajaan Allah dengan majunya kebudayaan kita. Kita sekarang hidup dalam abad ke-21 dan kita bisa melihat apa yang terjadi di Amerika dan Eropa. Waktu orang-orang mengasosiasikan kerajaan Allah dengan sesuatu yang kelihatan, mereka mulai tidak memperhatikan firman Tuhan dengan serius. Akhirnya mereka mulai mengabaikan firman Tuhan. Atau ada orang-orang yang mengatakan kapan Kerajaan Allah akan datang. Jika kita tahu tepatnya kapan Kerajaan Allah akan datang, maka kita akan hidup sembarangan, kurang sebentar lagi baru mereka baca Alkitab dll. Waktu kita berdoa, “datanglah kerajaan-Mu,” itu bukan berarti seakan-akan ada satu kerajaan di atas sana yang pelan-pelan lagi turun lalu kemudian datang. Alkitab memakai gambaran-gambaran ini, kerajaan Allah yang turun dari Surga. Tetapi itu adalah suatu metafor, menggambarkan suatu realita rohani.

Kalau kita berbicara mengenai konsep kerajaan, saya pikir istilah kerajaan di bahasa Indonesia membantu kita untuk melihat konsep ini. Karena kerajaan bisa diterjemahkan menjadi suatu area atau domain. Suatu realita ada orang yang duduk dan mengatur. Inilah yang namanya kerajaan Allah, suatu realita di mana Allah itu menjadi Raja. Gerhardus Vos pernah menulis, “God’s kingdom is always about His reign, about His rule and never about His domain.” Kerajaan Allah adalah selalu mengenai pemerintahan-Nya, bukan mengenai wilayah-Nya. Sehingga waktu Yesus ditanya oleh orang Farisi, “Jadi kapan kerajaan Allah itu akan tiba?” Yesus berkata, “Kerajaan Allah itu ada di antara kamu.” Karena di antara orang-orang yang ada di sana, ada orang-orang yang menyadari bahwa Allah adalah Raja.

Seri : Panggilang Tuhan Yesus terhadap Elia.

Pdt. Dr. Stephen Tong

Siapakah Elia? Elia adalah nabi yang mewakili semua nabi di dalam Kitab Suci. Dan Elia adalah satu-satunya nabi yang tidak pernah dicatat orang tuanya siapa, asli dari mana, keturunan orang penting yang mana. Dia seorang yang sangat asing. Elia adalah satu-satunya nabi yang keluar dari desa begitu kecil, yaitu Tisbe. Manusia yang unik sekali. Jangan menghina kota kecil, jangan menghina orang yang tidak ada nama. Tuhan kalau mau pakai, Dia bisa memakai orang yang paling asing, paling tidak dikenal, untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan yang paling besar. Saya sangat heran, orang seperti ini bisa dipakai oleh Tuhan, diurapi Roh Tuhan menjadi nabi yang paling besar? Tidak ada orang bisa menjawab. Alkitab mengatakan, muncullah seorang dari Tisbe dan dia berkata, “Demi Allah yang hidup, yang saya layani, saya berkata kepadamu: berapa tahun ini kalau saya tidak berdoa, tidak ada embun yang datang ke dunia. Kalau saya tidak berdoa, tidak ada turun hujan ke atas bumi.” Setelah kalimat itu keluar dari mulut Elia, kekeringan tiba. Rumput-rumput tidak ada embun, sawah-sawah tidak ada hujan, tidak ada awan gelap. Satu hari, dua hari, tiga hari ada orang tertawa, “Ini omong kosong! Siapa engkau? Bagaimana engkau berani mengatakan apa yang akan terjadi, langit tidak hujan bahkan tidak turun embun?” Mereka menertawakan dia, mereka tidak percaya kepada dia. Tetapi sejarah membuktikan, kalimat itu setelah keluar dari mulut Elia, tiga tahun setengah tidak ada satu tetes hujan yang turun.

Kalau saya memikirkan ayat-ayat Alkitab ini, saya akan lutut dan berbakti kepada Tuhan Allah. You are God, Your Word is Truth. Your servant is the prophet, what has been spoken of him is confirmed by the living God. Siapakah Elia? Bukankah Allah berkata, manusia membuktikan? Tetapi di dalam kasus Elia, Elia berbicara, Allah mengkonfirmasikan. Mereka yang menghina dia, mereka yang mentertawakan dia, berhenti tertawa, berhenti menghina dan mulai berdoa minta Tuhan menurunkan hujan, supaya tanah tidak kering dan supaya manusia ada makanan. Tetapi Allah membuktikan hambaNya benar. Tiga tahun setengah tidak turun satu tetes hujan.

Felix Mendelssohn kira-kira 180 tahun yang lalu menggubah oratorio Elijah. Kalimat pertama, “In the name of God, I tell you, if I do not pray, there will be no dew, no rain coming to this world.”  Tiga tahun kemudian Israel mendapatkan kecelakaan, tidak ada makanan, tidak ada tumbuh-tumbuhan, seluruh umat manusia lapar dan banyak yang mati. Ini tidak pernah terjadi sebelum Elia. Meskipun di dalam negara Mesir pernah ada kelaparan, pernah ada bencana besar kelaparan. Tapi tidak sehebat seperti zamannya Elia. Lalu Mendelssohn tulis musik dengan kalimat, anak-anak berkeliaran di pinggir jalan di Yerusalem, mengulurkan tangan minta tolong, minta makanan, minta minuman karena mereka sudah haus, mereka sudah lapar, hampir mati. Elia adalah nabi yang paling unik. Di antara semua nabi, tidak ada orang yang lebih berkuasa dari Elia. Di antara semua nabi, tidak ada nabi yang lebih tersendiri dari Elia. Mengapa dia paling tersendiri? Dia pernah minta mati. Tuhan, let me die, because I am not better than my fathers. Satu-satunya nabi yang minta mati. Saya tanya, engkau pernah minta mati? Banyak anak muda pernah minta mati kalau pacarnya tidak mau dia. Benar kamu minta mati? Benar tidak takut mati? Berani minta mati, lalu begitu sakit langsung cari dokter supaya cepat sembuh. Elia minta mati, Tuhan tidak kasih mati. Dia minta mati, Tuhan kasih roti. Makan! Dia terpaksa makan. Setelah makan, Tuhan berkata, “Hidup, jangan mati.” Satu kali makan lari 40 hari. Ini jiak po yang paling hebat di dalam sejarah. Satu hari makan vitamin, bisa lari 40 hari. Saya tanya, Tuhan kasih Elia mati tidak? Bukan saja tidak kasih mati, Elia menjadi satu-satunya nabi yang tidak pernah mati. Dia secara hidup-hidup diangkat kembali ke surga. Mulai minggu ini saya mulai khotbah tentang Elia, minggu-minggu selanjutnya akan terus-menerus bicara tentang keagungan nabi yang unik ini. Saya sekarang sampai di sini, mari kita berdoa.

Close
Close Search Window