Download versi cetak: 1264KebaktianPagi_2026-17-May_HW

Apa Yang Kamu Cari?

Yohanes 1:35-38

Pdt. Hendra Wijaya, M.Th.

*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah

Bagian Alkitab yang kita baca adalah bagian yang kita sudah sering membaca, bahkan mungkin menurut kita, ini adalah bagian yang biasa saja dan kita cenderung membacanya dengan sekilas. Namun ini bukanlah sebuah bagian yang sekadar naratif minor yang boleh kita abaikan begitu saja. Karena di dalam bagian ini, penulis Injil Yohanes sedang mempertemukan sejarah wahyu Allah dan pencarian hidup manusia, di dalam satu momentum yang bersamaan di dalam bingkai permulaan pelayanan dari Yesus.

Berbeda dengan penulis Injil Sinoptik, misalnya Matius memulai dengan memberikan catatan mengenai silsilah Yesus. Lukas dan Markus memulai dengan memberikan catatan akan berbagai peristiwa tanda dan kuasa mukjizat yang menyatakan otoritas Yesus yang bersifat ilahi. Penulis Injil Yohanes justru menempatkan permulaan pelayanan Yesus melalui sebuah momentum yang sifatnya sangat radikal, personal dan eksistensi ke dalam hati manusia.

Yohanes memulai naratif ini dengan memberikan suatu indikasi waktu, yaitu “pada keesokan harinya.” Kalimat ini bukan sekedar dimaksudkan untuk mencatat peralihan waktu secara kronologi dari apa yang terjadi di hari sebelumnya, atau sekadar perbuahan waktu secara biasa.  Teolog Geerhardus Vos melihatnya sebagai satu penanda temporal yang menunjukkan bahwa momentum sejarah penebusan sudah tiba. Waktu sejarah penebusan Allah sudah dimulai, di dalam konteks ini Yohanes Pembaptis yang sudah berdiri seolah-olah mewakili nabi perjanjian lama yang terakhir dan dia sekarang menunjukkan datangnya masa Perjanjian Baru. Kesaksiannya adalah nubuat terakhir dari seorang nabi pada masa pre Mesianik. Maka istilah “keesokan harinya” menjadi penanda bahwa zaman berikutnya sudah tiba.

Teolog yang lain, yaitu Herman Ridderbos, mempertajam observasi ini dengan menyatakan bahwa apa yang disaksikan oleh Yohanes Pembaptis bukanlah sekedar sebuah kesadaran dan keyakinan pribadi, tetapi merupakan sebuah penyingkapan wahyu yang secara ilahi telah disampaikan kepada dia. Di dalam konteks Injil Yohanes, istilah ‘wahyu’ itu bukan sekadar soal menyingkapkan informasi akan apa yang belum terjadi atau apa yang akan segera terjadi, tetapi pengertian tentang wahyu di dalam konteks Injil Yohanes adalah soal menyingkapkan datangnya realitas kehadiran Allah yang bersifat eskatologis. Maka, ketika Yohanes Pembaptis memperkenalkan identitas Yesus, dengan menunjukkan diri-Nya sebagai anak domba Allah, ia tidak sekedar sedang melekatkan atribut perjanjian lama kepada Yesus, melainkan dia memberikan sebuah tafsiran yang baru. Inilah saatnya, inilah momentumnya, yaitu karya keselamatan dari Allah telah menerobos ke dalam sejarah umat manusia.

Yohanes tidak sekadar sedang melekatkan pada diri Yesus sebuah atribut yang berkenaan dengan ingatan orang Israel tentang Perjanjian Lama. Melainkan Yohanes Pembaptis dengan teliti sedang memperkenalkan Yesus sebagai figur yang merupakan penggenapan sekaligus titik kulminasi atas semua bayangan dari sistem korban di dalam Perjanjian Lama. Istilah anak domba tentu saja akan menggugah ingatan orang Israel tentang semua upacara korban di dalam Perjanjian Lama. Semua ingatan tentang domba dan korban di dalam Perjanjian Lama hanyalah refleksi dan bayangan yang menunjukkan kepada janji Allah akan Mesias yang akan datang kelak, yang akan menjadi korban sempurna di hadapan Allah untuk mendatangkan keselamatan bagi mereka yang percaya di dalam nama-Nya.

Hal ini sejalan dengan seluruh natur pelayanan Tuhan Yesus di kemudian hari. Mulai dari peristiwa di Kana sampai Golgota, telah dibentuk oleh identitas-Nya sebagai anak domba Allah yang menderita bagi keselamatan umat-Nya. Demikian pula ketika penulis Injil Yohanes mencatat mengenai permulaan pelayanan Tuhan Yesus, dia tidak memulai dengan catatan tentang mukjizat atau doktrin tertentu. Namun Yohanes membingkai seluruh permulaan pelayanan Tuhan Yesus dengan catatan tentang rencana dan bahasa karya keselamatan dari Allah. 

Di dalam Ayat ke-37, penulis Injil Yohanes mencatat apa yang terjadi ketika kedua murid Yohanes mendengar apa yang diproklamasikan oleh Yohanes Pembaptis mengenai identitas Yesus sebagai anak domba Allah. Kedua murid itu bergerak meninggalkan Yohanes Pembaptis dan mulai mengikuti Yesus. Ini bukan sebuah gerakan yang sederhana. Ini bukan sekadar sebuah gerakan perpindahan seorang murid dari guru yang lama kemudian mengikuti guru yang baru. Ini adalah sebuah gerakan yang sangat bersifat teologis. Ini adalah tindakan peralihan dari kesetiaan terhadap Perjanjian Lama kepada perjanjian baru.

Para murid Yohanes Pembaptis sadar bahwa inilah momentumnya, inilah saatnya beralih dari kesetiaan terhadap perjanjian lama kepada perjanjian baru. Ketika para murid Yohanes Pembaptis mulai bergerak mengikuti Yesus, penulis Injil Yohanes lagi-lagi ingin kita memahami bahwa inilah permulaan era keluaran yang baru. Pembentukan Israel yang baru yang tidak lagi hanya ditandai dengan Gunung Sinai, Taurat, dan Yerusalem. Namun, sekarang ditandai dengan keselamatan di dalam anak domba Allah. Maka dalam konteks ini, permulaan pelayanan Tuhan Yesus dimulai dengan mengumpulkan lagi umat Israel yang baru. Umat yang dikumpulkan bukan karena melihat kuasa dan tanda-tanda mukjizat, tetapi umat yang dikumpulkan melalui kesaksian dari Injil.

Dalam ayat ke-38, tercatat apa yang terjadi setelah para murid Yohanes Pembaptis mengikuti Yesus. “Yesus menoleh ke belakang, Ia melihat bahwa mereka mengikuti Dia.” Ini juga sebuah tindakan yang sangat biasa. Namun, ini bukanlah sekedar sebuah reaksi alamiah yang dilakukan oleh Yesus secara kebetulan. ESV memakai kalimat: “Jesus turn and saw.” Bahasa Yunaninya di dalam bagian ini memakai kata strapheis (στραφεὶς) / strephō (στρέφω) dan theasamenos (θεασάμενος). Secara makna kata, strapheis  / strephō  memang mempunyai indikasi berpaling secara fisik dan mengalihkan perhatian atau berfokus kepada seseorang. Kemudian kata kedua adalah  theasamenos. Kata ini berarti bukan hanya sekadar melihat secara sekilas begitu saja, tetapi melihat dan mengamati dengan seksama. Menatap dengan penuh pemahaman, memahami dengan wawasan tertentu, dan mengamati dengan kesadaran yang bersifat evaluatif.

Yesus yang adalah Allah yang inkarnasi menjadi manusia, Ia menoleh ke belakang dan melihat manusia itu dan menyelidiki kedalaman hati dan pikiran manusia yang terdalam, sebagaimana dicatat di dalam Yeremia 17:10. Dia mengetahui dengan jelas motivasi setiap orang datang mengikuti Dia. Dia mengetahui semua berhala yang masih tersimpan rapi dan tersembunyi di dalam hati manusia, sehingga berhala-berhala itu menghalangi kita untuk menaati penggenapan rencana Allah di dalam hidup kita. Yesus melihat semua ini sebelum Ia mengucapkan sepatah kata apa pun kepada kedua orang itu. Sebelum Dia memanggil, Yesus memahami sepenuhnya kesulitan hidup setiap orang. Maka cara Yesus menoleh ke belakang dan melihat adalah cara Sang Ilahi yang menatap karena Dia mengenali, mengetahui, memilih, dan sekaligus Dia memanggil saudara dan saya.

Maka, pandanglah kepada Yesus yang sedang menoleh kepada kita, berharap dan serahkanlah ke dalam tangan-Nya seluruh beban hidup kita, yang tidak sepatutnya kita tanggung sendiri. Datanglah kepada Yesus dan Ia akan memberikan kepada kita segala kelegaan-Nya. Di bagian lain Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Mari ikutlah Aku. Aku akan menjadikan kamu penjala manusia.” Ajakan untuk mengikuti sang Firman bukanlah ajakan untuk sekedar mengikuti tanpa tujuan dan tanpa makna. Juga bukanlah ajakan yang tidak bisa dimengerti alasannya, karena Yesus sudah berjanji dan sudah bersiap sedia menjadikan kita sesuatu yang berguna di dalam kerajaan-Nya. Kita mengikuti Yesus karena kita sadar ini semua tidak akan pernah sia-sia.

Kedua murid yang mengikuti Yesus itu sepertinya belum sepenuhnya memahami, apa yang mereka sebetulnya cari ketika mereka meninggalkan Yohanes Pembaptis dan mengikuti Yesus. Mungkin hal ini juga terjadi kepada banyak orang yang menyebutnya dirinya Kristen hari ini. Yesus berkata kepada mereka, “Apa yang kamu cari?” Inilah ayat yang paling penting di dalam seluruh bagian yang kita baca. Ayat ini seolah menggemakan pencarian Allah atas keterhilangan manusia di dalam dosa: “Di manakah engkau Adam?” (Kejadian 3:9). Perhatikanlah bahwa Yesus tidak bertanya kepada kedua murid itu, “Siapa yang kamu cari?” Namun, Yesus bertanya kepada kedua orang murid ini, “Apa yang kamu cari?” Pertanyaan ini sangat relevan dengan tindakan mereka yang meninggalkan Yohanes Pembaptis lalu mengikuti Yesus. Sebuah pertanyaan yang sangat tajam dan membongkar seluruh isi hati manusia; sebuah pertanyaan yang akan membongkar motivasi terdalam dan yang tersembunyi dari hati manusia untuk beragama. Inilah kalimat pertama yang diucapkan oleh Yesus pada awal pelayanan-Nya menurut penulis Injil Yohanes.

Pelayanan Yesus tidak diawali dengan menyatakan kuasa mukjizat-Nya. Yesus juga tidak memulai pelayanan dengan silsilah hidup-Nya yang menunjukkan bahwa semua nubuat dari perjanjian lama sudah digenapi di dalam hidup-Nya. Namun, menurut Injil Yohanes, Yesus memulai pelayanan-Nya dengan pertanyaan interogasi, yang bersifat menerobos membedah hati dan motivasi isi hati seluruh umat manusia, yaitu dengan pertanyaan: “Apa yang kamu cari?” Kata mencari di dalam bahasa Yunani dalam bagian ini adalah kata zēteō (ζητέω). Ini bukanlah bentuk kata kerja yang dipergunakan untuk menggambarkan rasa ingin tahu yang biasa, Melainkan kata kerja yang menyatakan ekspresi dari keinginan hati yang paling dalam. Kalau kata ini dirangka dalam bentuk kalimat yang bersifat present tense, maka kalimat tanya ini akan menjadi seperti ini: “Apa yang sebenarnya engkau terus-menerus cari di dalam hidupmu? Apa yang menjadi dorongan di dalam hidupmu untuk terus mencari?”

Sebuah pertanyaan yang kelihatan sederhana, tetapi sangat sulit untuk kita jawab dengan satu kalimat, karena terlalu banyak konteks, terlalu banyak matriks dalam hidup kita yang membuat kita tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Ini juga menjadi pertanyaan Yesus kepada kita, “Apa yang kamu cari dengan menjadi orang Kristen sampai hari ini?” Apakah itu status, atau keamanan, atau keselamatan? Apakah itu sukses dan kemakmuran materi di dalam dunia ini? Atau justru kita memang dengan sejujur-jujurnya sedang mencari kebenaran?

Berapa banyak dari kita yang mempunyai motivasi dan keinginan mencari kebenaran dan mencari Allah? Kalau ditanya dengan jujur, kemungkinan besar kelompok ini adalah kelompok yang paling sedikit dan ini sudah terbukti sejak zaman permulaan pelayanan Yesus di dalam dunia ini. Tuhan Allah memberikan janji-Nya di dalam Yeremia 29:13: “”Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.” Namun persoalannya, apa yang kita cari dalam hidup ini? Kita merasa dunia dan segala kemewahannya adalah realitas. Kita anggap mencari Allah itu tidak real, karena kita percaya apa yang lihat dengan mata dan apa yang kita rasakan dengan tubuh kita. Kita menganggap percaya kepada Allah adalah suatu hal yang abstrak dan tidak masuk akal, karena kita tidak bisa merasakan hal itu dan itu tidak langsung menyelesaikan persoalan saya. Namun, supaya nanti bisa masuk Surga dan tidak menderita, maka kita ikut Tuhan, tetapi itu bukanlah motivasi utama kita. Kita menyisakan porsi yang tersisa untuk mencari kebenaran dan mencari Allah.

Setelah Yesus menanyakan pertanyaan yang sangat tajam itu, apa yang menjadi jawaban dan reaksi para murid? Bagian berikutnya sangat menarik dan akan mengejutkan kita. Para murid yang mengikuti Yesus dari belakang itu, tidak menjawab pertanyaan Yesus. Mereka tidak mengutarakan dengan jelas apa yang mereka cari dengan mengikuti Yesus, dan itu sama seperti kita pada hari ini. Para murid itu menjawab dengan: Kata mereka kepada-Nya: “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Apakah komunikasi seperti ini masuk akal? Bahasa Yunani di bagian ini memakai kata: Didaskale (Διδάσκαλε) pou (ποῦ) meneis (μένεις;)? Ini adalah sebuah pertanyaan yang memiliki kekayaan dimensi teologis. Para murid itu mengajukan sebuah pertanyaan yang mencerminkan seluruh spiritualitas pemuridan di dalam seluruh Injil, yaitu teologi tinggal. Mengenai apakah menjadi murid itu berarti harus tinggal bersama-sama dengan Yesus atau harus tinggal di dalam Yesus.

Tentu saja para murid itu tidak sedang bertanya di mana tempat Yesus tinggal secara geografis atau lahiriah. Pertanyaan para murid itu adalah ekspresi dari isi hati mereka yang rindu, “di manakah aku bisa senantiasa bersama dengan Engkau?” Pertanyaan yang barangkali juga menggemakan kerinduan dari seluruh Israel sepanjang sejarah, yaitu kerinduan akan kehadiran Allah tinggal di dalam hidup mereka. Dengan demikian pertanyaan mereka itu dapat diterjemahkan sebagai pertanyaan mengenai di manakah kehadiran Allah dapat aku temukan? Di manakah kehadiran Allah akan tinggal di dalam hidupku saat ini? Keinginan terdalam dari hati para murid di dalam mengikuti Yesus adalah kerinduan mereka supaya kehadiran Allah yang kekal itu yang dapat tinggal di dalam hidup mereka. Itulah sebabnya Yesus menjawab mereka dengan, “Mari datang dan lihatlah.”

Seorang teolog, Richard Bauckham, menandai kalimat itu sebagai undangan bagi para saksi mata. Sebagai saksi mata dan menjadi murid yang hendak mengikuti perjalanan Yesus, kita tidak mungkin bisa mengenal Yesus dari kejauhan. Kita harus bersinggungan dekat dengan diri-Nya, kita harus dengan sungguh-sungguh mengundang Dia masuk dalam hidup kita. Kita harus tinggal bersama-sama dengan Dia dan Dia tinggal bersama-sama dengan kita. Dan dengan jalan itu, barulah kita akan menemukan kehadiran Allah yang kekal itu tinggal di dalam hidup kita.

Ayat 39 mencatat, “Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal.” Penulis Injil Yohanes dengan sengaja menuliskan secara detail tentang waktu dan tempat untuk menunjukkan betapa nyata, betapa konkretnya ingatan para saksi mata dari peristiwa itu. Secara lahiriah, kedua murid itu memang pergi dan melihat tempat di mana Yesus tinggal. Namun secara spiritual, mereka menemukan kehadiran Allah. Allah yang telah berinkarnasi menjadi manusia itu kini telah datang dan tinggal di tengah-tengah umat-Nya.

Yohanes 1:35-38 ternyata bukan sekadar kisah kecil yang sederhana, tetapi ini adalah kisah yang menjadi permulaan dari segala sesuatu tentang Injil. Kisah permulaan pelayanan Yesus juga adalah kisah permulaan tentang mengikuti Yesus dan menjadi murid-Nya. Kisah tentang permulaan umat Allah yang baru dan juga kisah yang dimulai dengan pertanyaan sekaligus undangan. Yesus masih mengajukan pertanyaan dan undangan yang sama kepada kita: “Apa yang kamu cari?” Pertanyaan yang akan membongkar seluruh isi hati kita yang terdalam. Pertanyaan yang membongkar semua berhala yang menghalangi kita untuk datang kepada Tuhan. Pertanyaan yang membongkar semua ilah yang menghalangi kita untuk taat masuk ke dalam rencana Allah dan panggilan Allah. Pertanyaan yang menyingkapkan keinginan hati kita yang sesungguhnya. Pertanyaan yang membongkar topeng pengajaran kita yang salah dalam hidup ini selama ini.

Yesus juga masih menjawab pertanyaan dan keraguan kita dengan undangan-Nya, mari datang dan lihatlah kepada anak domba Allah yang menanggung dosa kita. Mari datang dan lihatlah kepada Dia yang mengenali kita secara pribadi, Dia yang ingin tinggal bersama dengan kita, dan Dia yang paling sanggup memuaskan kehausan dan kelaparan jiwa kita. Dia yang sanggup untuk mentransformasi kita dari pencari kebenaran menjadi murid yang sejati. Apa yang kamu cari? Mari datang dan lihatlah. Inilah Injil. Inilah panggilan. Inilah hidup yang Yesus tawarkan kepada kita.

Kiranya kita dapat meneladani para murid Yesus yang pertama itu, yaitu mendengar dan menerima suara kesaksian itu, lalu bergerak dan mengikuti sang anak domba Allah. Menjawab pertanyaan dari Yesus dan menerima undangan dari Yesus dengan hati dan tangan yang terbuka. Sehingga kita akan menemukan kelimpahan makna hidup kita. Amin.

Close
Close Search Window