Download versi cetak: 1262KebaktianPagi_2026-03May
Jangan Engkau Tidak Percaya lagi, Melainkan Percayalah
Yohanes 20: 24-31
Pdt. Ivan Adi Raharjo, M.Th.
*Ringkasan khotbah ini belum diperiksa pengkhotbah
Minggu lalu kita baca dari Yohanes 20, kisah Yesus menampakkan diri kepada para murid di ruangan terkunci. Hari ini kita lanjutkan Yohanes 20:24-31. Pernahkah anda merasa beriman itu sulit? Bukan karena kita tidak tahu kebenaran doktrin, bukan juga karena tidak pernah melihat Tuhan bekerja. Tapi mungkin kita terlalu lelah untuk berharap. Kita mengalami banyak kekecewaan, sehingga kita susah untuk percaya Tuhan akan bekerja. Mungkin itu sedang terjadi pada sebagian dari kita hari ini.
Minggu lalu adalah kisah Yesus menyatakan diri-Nya yang sudah bangkit kepada komunitas, yaitu para murid yang sedang berkumpul. Sebelum itu, kita juga membaca Yesus menampakkan diri secara pribadi kepada Maria dalam kubur kosong. Jadi ada menampakkan diri kepada pribadi dan juga menampakkan diri kepada komunitas. Kisah yang kita baca hari ini, adalah campuran keduanya, karena di sini kita membaca bagaimana Yesus hadir di tengah-tengah para murid yang sedang berkumpul, tapi juga sepertinya Dia menampakkan diri secara khusus demi Tomas yang sebelumnya ketinggalan. Hari pertama Minggu Paskah, Yesus menampakkan diri kepada para murid di sebuah ruangan, tapi Tomas ketinggalan, tidak ada di situ. Delapan hari setelahnya, Tuhan Yesus sengaja menampakkan diri-Nya sekali lagi di tempat yang sama, kepada para murid, khususnya kepada Tomas. Tuhan Yesus secara khusus mengatakan Shalom lagi, menunjukkan luka di tangan dan di lambung-Nya, khusus kepada Tomas.
Yohanes adalah penulis Injil yang sangat selektif dalam memilih bahan yang dia masukkan ke dalam Injilnya. Dia mengatakan banyak tanda lain / mukjizat lain yang dibuat Tuhan Yesus. Tapi mukjizat yang Yohanes pilih untuk masukkan ke dalam Injil itu hanya 7. Para penafsir mengatakan, ini seperti mengingatkan kita pada new creation (ciptaan yang baru). Maka kita percaya pasti untuk kisah peristiwa kebangkitan, Yohanes juga memilih kisah-kisah yang dia mau catat. Yohanes itu adalah rasul yang paling muda, kemungkinan pasti Injilnya ditulis belakangan. Mungkin dia sudah membaca Injil Lukas, yang ada kisah perjalanan 2 murid ke Emaus, tapi Yohanes tidak memasukkan bagian itu ke dalam Injilnya. Yohanes memilih kisah Yesus menampakkan diri secara khusus kepada Tomas ini. Kisah yang tidak ada dalam Injil lain. Dia pilih kisah ini sebagai bagian yang mengakhiri Injilnya. Saudara mungkin bertanya, bukankah masih ada kisah Petrus yang dipanggil kembali oleh Tuhan? Betul, ada kisah di Yohanes 21, tetapi para penafsir hampir semua sepakat bahwa kemungkinan pasal 21 itu adalah tambahan kemudian. Karena Yoh 20:30-31, itu seperti sudah kalimat penutup. Sebelum bagian penutup itu, Yohanes memilih kisah Yesus menampakkan diri kepada Tomas. Kisah yang sangat berharga, yang bagi Yohanes ini cocok untuk menjadi klimaks dari apa yang dia ingin sampaikan lewat Injilnya. Yang juga bisa membuat para pembacanya tergerak untuk menjadi percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah. Supaya oleh iman, para pembacanya itu memperoleh hidup dalam nama Yesus.
Seperti apa sebenarnya iman kepada Kristus yang bangkit itu? Kisah Tomas, nanti akan menunjukkan kepada kita beberapa hal tentang perjalanan iman kepada Kristus. Kisah Tomas menunjukkan kepada kita bahwa iman itu bukan sesuatu yang sederhana dan straightforward. Bahkan seringkali perjalanan iman itu dimulai dari pergumulan yang sulit, yang penuh dengan rasa kecewa dan kepahitan (agony).
Kenapa Tomas meragukan kesaksian dari para murid lainnya? Maria, Petrus, Yohanes dan para murid-Nya, memberikan kesaksian kubur kosong, Yesus menampakkan diri dan seterusnya. Cleopas mengatakan Dia menyatakan diri kepada kami dalam perjalanan ke Emaus. Kita tahu itu Yesus karena kami melihat tanda luka di lambung-Nya. Tapi Tomas yang tidak percaya mengatakan, aku tidak akan percaya kecuali aku sentuh bekas luka-Nya itu. Apa yang membuat Tomas begitu meragukan kesaksian teman-teman dekatnya? Ada yang mengatakan Tomas ini terlalu skeptis, terlalu worldview modern. Seperti sekarang, banyak orang tidak bisa percaya dengan mukjizat, tidak mungkin orang yang sudah mati bangkit kembali. Kenapa orang bisa memegang kepercayaan seperti itu? Tapi ada orang juga mengatakan, mungkin Tomas ini secara temperamen dan personality, memang cenderung lebih rasional. Ada orang yang lebih menggunakan intuisi/kepekaannya dalam melihat segala sesuatu. Tomas berbeda, dia lebih menggunakan senses-nya, lebih melihat realita fisik di depan matanya, fakta-fakta dan bukti-bukti (evidence), sehingga mungkin Tomas cenderung lebih skeptis. Ada orang seperti ini, yang lebih bukti atau logika yang lebih masuk akal, kalau tidak, mereka sulit percaya. Kecenderungan seperti ini sendiri, belum tentu dosa. Tapi kalau itu kebablasan, sampai membuat kita betul-betul mengeraskan hati, itu bisa menghalangi kita melihat Tuhan. Tetapi, kalau memang ini yang menyebabkan Tomas sulit untuk percaya, pertanyaannya bukankah Tomas itu salah satu murid yang mendapatkan privilege menyaksikan kuasa Yesus yang begitu besar? Setidaknya 7 mukjizat yang mengingatkan mereka pada kuasa ciptaan baru yang Yesus miliki. Bukankah dia juga belum lama ini melihat Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus dari kubur? Sesulit itukah dia percaya bahwa Yesus bisa bangkit dari kubur? Mungkin ada alasan lain kenapa Tomas ragu-ragu.
Kita perlu melihat lebih banyak catatan Injil tentang Tomas. Menarik, dalam 3 Injil lainnya, nama Tomas itu hanya disebut sekali, yaitu ketika ada list para murid Yesus disebutkan. Ada Matius, lalu ada nama Tomas, salah satunya. Tapi saudara akan menemukan nama Tomas itu banyak muncul di dalam Injil Yohanes. Memang banyak muncul dalam perikop yang dibaca tadi, tapi ada 2 bagian lain yang mencatat perkataan Tomas. Pertama, Yohanes 11:7, ini adalah ketika Lazarus baru saja meninggal dan Yesus mengajak para murid. Padahal waktu itu keadaan sudah sangat tegang. Para pemimpin agama di Yerusalem baru saja mencoba merajam Yesus dengan batu, karena Yesus berkhotbah mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu.” Di situ, para pemimpin agama mengajak Yesus berdebat, tapi Yesus tidak mau mundur, malah terus mengatakan hal-hal yang dianggap blasphemy. Mereka mengambil batu berusaha merajam Yesus dan para murid-Nya, tetapi mereka luput dari tangan mereka. Setelah peristiwa inilah, Yesus mendapat kabar bahwa Lazarus sakit dan akhirnya meninggal. Waktu Yesus mengajak kembali ke Yudea, murid-murid mengatakan, “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” (Yoh 11:7-8).
Ayat 16, Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” Kita juga bertanya kenapa Tomas mengatakan kalimat seperti ini, apakah sarkasme, sepertinya tidak. Ada semacam loyalitas dalam diri Tomas yang siap untuk mati bersama Yesus. Dia begitu rindu untuk tetap dekat dengan Yesus, tidak mau berpisah dengan Yesus, kalau perlu mati bersama dengan Yesus. Dalam Yoh 14:5, perjamuan terakhir, ketika Yesus mengatakan bahwa Dia akan pergi ke tempat yang jauh, menyediakan tempat bagi para murid-Nya dan Yesus mengatakan, ke mana Aku pergi kamu tahu jalan ke situ. Tiba-tiba Tomas mengatakan “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”
Di sini kita melihat memang Tomas kurang mengerti banyak hal yang Yesus maksudkan. Tapi kelihatan dia sangat eager untuk terus dekat, terus memegang Yesus. Maka banyak penafsir yang juga mengingatkan, kita jangan terlalu ‘bully’ si Tomas, mengatakan dia itu si peragu, dan seterusnya. Karena meskipun ini adalah 2 clue yang terbatas dan terbuka untuk interpretasi lain, banyak penafsir melihat Tomas adalah orang yang sangat setia. Dia terus ingin ikut Yesus ke mana pun Yesus pergi. Lebih baik mati bersama Yesus daripada hidup tanpa Yesus. Tapi mungkin justru ketergantungannya pada Yesus ini yang membuat dia menjadi orang yang akhirnya begitu mengeraskan hati, ketika dia dengar kabar tentang kebangkitan Yesus. Mungkin Tomas menjadi seseorang yang terlalu terluka untuk bisa percaya lagi. Setelah pengharapannya yang sangat tinggi kepada Yesus sebagai Mesias itu kandas ketika Yesus mati di salib, Tomas tidak mau lagi untuk percaya. Karena ketika dia mendapatkan pengharapan lagi, dia takut dia kecewa lagi.
Tetapi, ini seperti orang mungkin yang sudah berjuang dengan sakit penyakit begitu lama, mencoba berbagai macam obat, teknik pengobatan dan seterusnya. Setiap kali setelah mendapatkan informasi baru, muncul semangat pengharapan, tapi kemudian hasilnya tidak terlalu baik. Sampai akhirnya kita kehilangan pengharapan, kita mengatakan, sudahlah memang seperti ini, terima saja, mau apalagi. Ketika kita dengar ada alternatif lain, kita mengatakan sudahlah percuma, tidak usah dicoba lagi.
Mungkin ini adalah alasan kenapa Tomas akhirnya menjadi sangat keras memilih untuk tidak percaya Yesus bangkit. Hatinya itu terlalu hancur untuk bisa berharap lagi. Dia tidak mengatakan saya tidak bisa percaya. Tapi dia katakan, saya tidak mau percaya. Saya tidak akan percaya, kecuali aku memang melihat/menyentuh tubuh Kristus yang sudah bangkit. Jadi ini bukan sekedar masalah pikiran, tetapi ini juga hati yang terluka. Mungkin ini kekecewaan yang juga membuat Tomas tidak hadir bersama dengan para murid lain ketika pertama kali Yesus menampakkan diri-Nya. Ketika Yesus pertama kali muncul di minggu pertama hari Paskah, Tomas tidak ada di sana. Itulah yang membuat dia kemudian melewatkan kesempatan melihat kehadiran Kristus yang bangkit, melewatkan kesempatan berjumpa dengan Yesus, karena dia melewatkan kesempatan untuk berkumpul bersama dengan komunitasnya.
Saudara, ini bukan kebetulan. Karena seringkali Tuhan memilih untuk menyatakan diri-Nya di dalam persekutuan orang percaya (Mat 18:20). Tentu bukan berarti Tuhan tidak bisa bekerja ketika kita sedang sendirian, tetapi umumnya, seringkali yang terjadi adalah kita kehilangan kekuatan iman, justru ketika kita menjauh dari komunitas. Dan ini sangat-sangat penting bagi kita orang Kristen, khususnya di zaman modern ini. Banyak dari kita mungkin kecewa dengan gereja. Kita sudah lelah menghadapi segala hal yang tidak baik dalam gereja. Sampai pada titik kita mengatakan, “Sudahlah saya tidak perlu gereja. Saya bisa ikut Tuhan seorang diri saja.” Tapi kisah Tomas ini mengingatkan kita. Ketika kita memisahkan diri kita dari tubuh Kristus, justru segala keraguan, kekerasan hati, kekecewaan kita itu semakin keras, semakin kuat. Iman kita akan sangat mudah melemah ketika kita sendirian. Banyak keraguan yang muncul ketika kita kesepian, karena iman itu bukan sekedar masalah pribadi tetapi juga komunal. Beberapa dari saudara mungkin bergumul dengan imanmu saat ini, kiranya kisah Tomas mengingatkan: janganlah saudara berjalan sendiri. Jangan menjauhkan diri dari persekutuan di mana Tuhan hadir. Jangan sampai kita melewatkan Tuhan bekerja. Kalau kita bertahan sedikit lagi, Tuhan mungkin akan hadir menyatakan anugerahNya.
Inilah perjalanan iman Tomas, yang dimulai dengan sebuah agony dalam dirinya, yang membuat dia perlu syarat / kondisi untuk dia bisa percaya. Saya hanya mau percaya kalau aku melihat, menyentuh, kalau Tuhan membuktikan diriNya.” Tetapi ini adalah tuntutan kita kepada Tuhan yang tidak akan membawa kita kepada iman yang sejati. Karena justru iman itu artinya kita let go syarat-syarat yang kita tuntut dari Allah. Kalau kita masih berkata, “Saya akan percaya Tuhan kalau hidup ini berjalan semauku,” maka sebenarnya kita sedang menempatkan diri kita di atas Tuhan, bukan sedang mau beriman kepada Dia, tetapi mengendalikan Tuhan. Ketika Tomas berusaha melakukan ini, mengendalikan Tuhan dengan memberikan syarat kepada Tuhan, kita lihat apa yang terjadi. Belum sampai Tomas mendapatkan syarat yang dia minta, dia lebih dahulu percaya. Inilah iman yang sesungguhnya. Bukan kita tunduk kepada Tuhan setelah kita mendapatkan apa yang kita tuntut dari Tuhan, tapi sadar bahwa kita tidak bisa menundukkan Tuhan. Kitalah yang memang harus tunduk Tuhan seturut apa yang Tuhan mau. Dan kita tidak mungkin punya relasi dengan Kristus kalau kita pada saat yang sama berusaha mengendalikan Dia.
Itu yang Tomas sadari ketika dia melihat Kristus yang bangkit di hadapan matanya. Sebelumnya dia mengatakan, “Aku hanya akan percaya kalau aku sentuh, cucukkan tanganku dalam lambungnya.” Tetapi ketika Tuhan muncul dan menawarkan hal itu, “Sentuh lukaKu ini,” sebelum Tomas melakukannya, dia sudah tunduk dahulu kepada Tuhan, mengatakan, “Ya Tuhanku, ya Allahku.”
Tuhan seperti apa yang menjumpai Tomas di sini? Tuhan yang di satu sisi dengan kuasa dan kedaulatanNya menyatakan diri di hadapan kita. Tuhan yang tidak peduli seberapa keras hati kita, seberapa rapat pintu itu kita kunci, Tuhan masuk, Tuhan menerobos. Dia menghancurkan segala kepesimisan, segala kekerasan hati kita dengan menyatakan bahwa Dia sanggup mengerjakan hal-hal di luar ekspektasi kita yang sebetulnya terlalu kecil. Selain Allah menyatakan diriNya yang lebih besar daripada semuanya itu, kita di sini juga melihat Tuhan yang menyatakan diri dalam kasih-Nya yang begitu besar bagi kita. Dia tidak muncul dengan mahkota, tongkat kerajaan di tangan-Nya. Tapi sama seperti sebelumnya Dia menyatakan tanda paku di tangan dan di lambungNya. Kita bayangkan waktu para murid sudah berjumpa dengan Yesus dan mereka mencoba memberitahu Tomas, mungkin ini juga yang di-highlight para murid. Para murid mengatakan, “Tomas, kami sungguh-sungguh melihat itu Yesus, ada luka di tangan dan di lambungNya dalam tubuh kebangkitanNya.” Tomas yang sudah terlalu keras hatinya dan penuh dengan kekecewaan tidak percaya.
Tapi ketika Yesus akhirnya menyatakan diri kepada Tomas, Dia tidak mengatakan, “Tomas, kamu kurang ajar.” Tapi Dia datang dan memberikan kepada Tomas persis sesuai kata-kata Tomas sendiri. Seolah-olah Tuhan berkata, “Tomas, Aku dengar setiap keraguanmu, Aku tahu setiap pergumulanmu.” Bukan hanya menyatakan kemahatahuannya, ini juga menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang peduli dan tidak mau Tomas terus berkubang dalam kekecewaan hati dan ketidakpercayaannya. Maka dalam ruangan yang sama Dia memberikan sapaan yang sama, “Damai sejahtera bagimu.” Tapi kali ini Yesus kembali demi satu orang yang bergumul dengan imannya. Dia memperhatikan apa yang Tomas katakan, Dia tahu isi hati dan pikirannya. Maka itulah yang pertama kali dikatakan kepada Tomas [Yoh 20:27]. Dia mengatakan itu bukan untuk mempermalukan Tomas, tapi untuk menantang Tomas. Dia mengatakan, “Jangan engkau tidak percaya lagi melainkan percayalah.”
Iman Kristen itu bukannya anti-evidence. Tetapi juga pada saat yang sama iman kekristenan mengkonfrontasi ketidakpercayaan kita dan meminta kita untuk percaya. Ketika Tomas dihadapkan kepada Kristus seperti ini, Tomas juga akhirnya tidak mengambil kesempatan yang diberikan Yesus untuk menyentuh lukanya itu, saya percaya. Tapi dia langsung berespons dengan deklarasi klimaks dalam Injil Yohanes: “Ya Tuhanku, ya Allahku.”
Kalau kita ingat Injil Yohanes dibuka dengan seruan: “Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu adalah Allah.” Deklarasi bahwa Yesus adalah sang firman, sang Allah yang datang ke dunia. Dengan berbagai macam cerita yang dirangkai oleh Yohanes, kisah ini akhirnya mencapai klimaksnya ketika Tomas yang begitu keras hati, ragu-ragu ini mengutarakan deklarasi ini: Yesus adalah Tuhan dan Allah. Tomas ini adalah orang pertama di dalam Injil Yohanes yang secara eksplisit mengatakan bahwa Yesus adalah Allah, bahwa Yesus adalah Tuhan. Bahasa Tuhan, kalimat yang direserve yang merujuk kepada Yahwe. Inilah yang dikerjakan Kristus yang telah bangkit, Kristus yang datang bagi setiap anakNya yang bergumul dan akan memberikan kekuatan membuat mereka beriman dan percaya.
Iman dalam kekristenan bukanlah sekedar kita mengaku percaya kepada doktrin-doktrin tertentu. Tentu doktrin adalah hal yang penting terkait dengan iman kita. Karena salah satu elemen paling mendasar dalam iman itu adalah knowledge (pengetahuan). Kita tahu siapa yang kita percaya. Tapi setan pun tahu segala kebenaran, tahu siapa itu Yesus. Bukan hanya tahu, setan percaya Yesus adalah Anak Allah. Jadi iman betul harus ada pengetahuan yang benar dan kita juga mempercayai, menyetujui kebenaran itu. Tetapi satu hal yang membedakan anak Tuhan dari setan adalah bagaimana iman itu haruslah iman yang personal. Iman antara saya dengan dia yang saya imani. Iman bukan sekedar kepada apa yang Yesus ajarkan, tetapi kepada: siapa itu Yesus dan apa yang Dia kerjakan bagi saya. Iman yang sejati adalah iman yang personal, yang menyebut Yesus bukan sekedar sebagai Tuhan dan Allah, tetapi Tuhanku dan Allahku. Ini yang setan tidak bisa lakukan, dia setuju Yesus adalah Tuhan dan Allah, tapi dia tidak bisa mengatakan Yesus adalah Tuhannya dan Allahnya.
Ini yang harusnya menjadi iman kita. Saudara yang ikut katekisasi nanti mereka akan diuji apakah mereka menangkap hal-hal yang diajarkan di kelas katekisasi. Tapi tentu itu saja tidak cukup, walaupun full score, kalau kita tidak bisa mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhanku dan Allahku, maka itu bukan iman kepada Kristus itu sendiri.
Iman yang sejati haruslah menjadi iman yang personal, yang ada relasi antara kita dengan Kristus. Bagaimana kita bisa mendapatkan iman yang seperti ini? Salah satunya lewat kesaksian para saksi mata, seperti yang Tomas dengar, yang lalu bagi kita dicatat di dalam kitab suci. Ketika kita membacanya lewat pembacaan firman Tuhan itulah, ketika kita mau merendahkan hati, mau mendengar, maka seperti Tomas, kita juga bisa mendapatkan kehadiran Kristus yang personal dan nyata. Memang kita tidak seperti Tomas yang melihat kehadiran Kristus secara fisik. Tetapi justru ketika Yesus mengatakan “Berbahagialah mereka yang percaya tapi tidak melihat” mengajarkan kepada kita bahwa kita zaman sekarang pun bisa mengalami apa yang Tomas alami. Ketika kita membuka hati kepada kesaksian para saksi mata melalui kita membaca Alkitab, menggumulkannya, berdoa di hadapan Tuhan, saudara dan saya juga bisa mengalami kehadiran Kristus yang nyata.
Kristus yang bangkit 2000 tahun yang lalu juga adalah Kristus yang masih hidup, yang masih menjumpai kita umatNya. Yang mengingatkan kita pada bekas paku di tangan dan di lambungNya. Dia mengingatkan pada kita bahwa inilah yang Dia kerjakan dan berikan bagi kita. Inilah iman yang sejati, yang berakar pada realita sejarah yang pernah terjadi 2000 tahun yang lalu, tetapi juga menjadi sesuatu yang kita alami secara pribadi, personal encounter dengan Tuhan. Itulah yang membuat kita seharusnya juga bisa mengatakan bersama Tomas: “Tuhanku dan Rajaku.” Ketika kita mengatakan kepada Yesus bahwa Engkaulah Tuhanku dan Rajaku, ini juga adalah iman di mana kita siap untuk menyatakan loyalitas dan allegiance kita kepada Kristus. Ini juga menyatakan sikap hati kita yang siap menyembah Dia. Iman membawa kita kepada worship.
Dalam dunia Roma orang terbiasa mengatakan “Caesar is lord, Caesar is god.” Zaman kita juga banyak perkataan seperti itu, karir adalah Tuhan, rasa aman adalah allahku, kendali hidup adalah tuhan dan allahku. Tapi iman Kristen mengatakan Yesuslah, Tuhanku dan Allahku. Di tengah-tengah dunia yang menolak Kristus, kita menjadi komunitas yang menyatakan Yesuslah Tuhanku dan Rajaku. Hidup kita barulah menjadi hidup yang berkelimpahan, penuh sukacita dan sesuatu yang besar, ketika kita bisa menyatakan, mengekspresikan hal ini kepada Tuhan Allah yang sejati. Ketika kita bisa mengatakan kepada Tuhan Allah yang sejati, “Engkaulah Tuhanku, Allahku,” kita akan merasa cukup dan kita tidak takut akan apapun. Itulah yang mengubah Tomas dari seorang yang begitu keras, begitu ragu-ragu menjadi orang yang penuh dengan keyakinan. Menjadi salah satu rasul yang mendirikan gereja mula-mula di Yerusalem, bahkan menjadi rasul yang pergi membawa Injil sampai paling jauh ke India. Kisah Tomas bukanlah kisah contoh seorang yang penuh dengan keraguan. Tapi ini contoh kisah seorang yang begitu penuh keraguan, begitu keras menjadi seorang percaya yang begitu dipakai oleh Tuhan. Perubahan yang drastis ini, tidak mungkin kita bisa jelaskan kecuali Yesus sungguh-sungguh bangkit dan menyatakan diri kepada dia. Sekali lagi, Yesus yang bangkit itu juga masih hidup sampai sekarang dan masih menjumpai kita umatNya.
Sekalipun kita tidak bisa melihat tubuh Kristus dengan mata kita, Yesus memberikan special blessing. Dia mengatakan, “Berbahagialah mereka, lebih bahagia mereka daripada kamu, Tomas, yang bisa percaya tanpa melihat.” Mungkin hari ini ada di antara kita yang seperti Tomas. Ada dari kita yang mungkin sedang dalam keadaan mengunci diri rapat-rapat karena segala kekhawatiran, kekecewaan, putus asa dalam hidup. Saudara mungkin merasa ingin give up dengan komunitas saudara, ingin mengisolasi diri, menjauhkan diri dari orang lain.
Biarlah kisah Tomas ini mengingatkan kita, mari kita bertahan sedikit lagi. Kalau kita terus menjauhkan diri dari komunitas Tuhan, dari firman Tuhan, mungkin kita justru melewatkan kesempatan Tuhan bekerja dalam hidup kita. Secara khusus hari ini kita bersyukur kita akan melakukan perjamuan kudus. Tomas mengatakan “kalau aku tidak lihat, aku tidak percaya.” Hari ini Tuhan memberikan kepada kita sesuatu yang bisa dilihat, bisa disentuh tetapi yang ultimately sesuatu yang kita terima dari Tuhan. Ada roti dan cawan anggur, hal yang kelihatan, yang bisa dipegang. Memang kita tidak bisa melihat Yesus secara fisik, tapi Tuhan memberikan kepada kita tanda seperti roti dan anggur ini yang kita bisa terima, yang mengingatkan kita pada apa yang Kristus sudah kerjakan bagi kita. Bukan apa yang sudah kita kerjakan, tetapi apa yang Kristus kerjakan bagi kita. Roti yang melambangkan tubuh-Nya yang dipecahkan bagi kita. Cawan yang melambangkan darah-Nya yang dicurahkan bagi kita. Sehingga kita orang yang berdosa, yang najis dan tidak layak datang di hadapan Tuhan, kita boleh mendapatkan shalom. Kita diperdamaikan dengan Tuhan bukan karena kita orang baik, bukan karena perbuatan baik kita lebih banyak daripada perbuatan jahat kita. Tetapi karena tubuh Kristus yang dipecahkan dan darahNya yang dicurahkan. Maka biarlah ketika nanti saudara mengambil roti dan cawan yang disediakan, kita tidak mengatakan “Aku akan percaya kalau ini dan itu,” tapi kita datang dan mengatakan, “Ya Tuhanku, ya Allahku.” Yesus menjumpai Tomas secara pribadi. Hari ini melalui perjamuan ini Kristus juga akan hadir bersama dengan kita. Bukan secara fisik, bukan roti atau anggur yang berubah jadi tubuh dan darah. Tetapi dengan iman, kita diangkat ke hadirat Kristus dengan sungguh-sungguh. Ketika kita makan dan minum roti dan anggur itu dengan iman, maka Kristus sungguh-sungguh hadir. Sungguh-sungguh Dia mati bagi kita, dan dia mengundang setiap kita pada hari ini, jangan tidak percaya lagi tapi percayalah. Mari kita bersatu dalam doa.